5 Dampak Game Online pada Anak Usia Sekolah dan Pencegahannya

Berikut ini adalah artikel sehatmental.net mengenai dampak game online pada anak usia sekolah beserta pencegahannya:

 

DAMPAK DAN PERAN PENCEGAHAN KECANDUAN GAME ONLINE PADA ANAK USIA SEKOLAH

 

Oleh Alifa Tri Febrianti, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul

Jalan Arjuna Utara No.9 Tol Tomang Kebon Jeruk, Jakarta Barat – 11510

[email protected]

 

Abstract

Technological developments are now increasingly advanced, including progress in playing, playing can be done online or called online games which are currently very popular in various circles, one of which is among school-age children from the age range of 6-12 years. School-age children are susceptible to addiction to playing online games. The phenomenon of addiction to playing online games in school-age children can have a negative impact on various aspects of their lives. So it takes the role of prevention efforts from various parties including parents, families, schools, and teachers. The purpose of writing this scientific article is to determine the impact of online game addiction and the role of efforts that can be made as a form of preventing online game addiction in school-age children. This article is the result of an analysis by reviewing the literature related to the topic of discussion. The article model used is a literature study. The results of the analysis and literature review that have been carried out show that online game addiction can have a negative impact on various aspects of children’s lives including health, psychological, academic, social and financial aspects. So it takes the participation of prevention efforts that can be done by parents, families, schools and teachers, so that online game addiction is not increasingly widespread, especially in school-age children.

 

Keywords: Online Game Addiction, Impact and Prevention, School Age Children

Abstrak

Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin maju termasuk kemajuan dalam bermain, bermain sudah dapat dilakukan secara online atau disebut game online yang saat ini sangat populer di berbagai kalangan, salah satunya dikalangan anak usia sekolah dari rentang usia 6-12 tahun. Anak usia sekolah rentan mengalami kecanduan bermain game online. Fenomena kecanduan bermain game online pada anak usia sekolah dapat berdampak negatif dalam berbagai aspek kehidupannya. Sehingga dibutuhkan peran upaya pencegahan dari berbagai pihak diantaranya orangtua, keluarga, sekolah, dan guru. Tujuan penulisan artikel ilmiah ini untuk mengetahui dampak kecanduan game online dan peran upaya yang dapat dilakukan sebagai bentuk pencegahan kecanduan game online pada anak usia sekolah. Artikel ini merupakan hasil analisis dengan mengkaji literatur yang berkaitan dengan topik pembahasan. Model artikel yang digunakan adalah studi literatur. Dari hasil analisis dan pengkajian literatur yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa kecanduan game online dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan anak diantaranya aspek kesehatan, psikologis, akademik, sosial dan keuangan. Sehingga dibutuhkan peran serta upaya-upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh orangtua, keluarga, sekolah dan guru, agar kecanduan game online ini tidak semakin marak, khususnya pada anak usia sekolah.

Kata Kunci : Kecanduan Game Online, Dampak serta Pencegahan, Anak Usia Sekolah

dampak game online pada anak

Pendahuluan

Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin maju. Banyak sekali manfaat dan kemudahan yang dirasakan dari kemajuan teknologi saat ini bagi kehidupan manusia. Begitupun dengan permainan, seiring berkembangnya teknologi saat ini, permainan dapat dilakukan secara online yang memiliki manfaat sebagai media hiburan. Permainan yang dilakukan secara online atau biasa disebut game online sudah sangat populer di berbagai kalangan, salah satunya dikalangan anak usia sekolah. Anak usia sekolah sudah mulai memasuki perkembangan yang baru mengenai bermain dan permainan sehingga anak masih rentan akan hal-hal yang kurang baik (negatif) dalam kehidupan sehari-hari karena belum mampu memilah mana yang baik dan buruk. Maka dari itu, anak usia sekolah perlu pengawasan atau bimbingan penuh oleh orangtua dalam bermain game online (Mertika & Mariana, 2020).

Game online adalah suatu permainan yang biasa dimainkan oleh lebih dari dua orang di waktu yang sama dengan perantara jaringan internet (Adams, 2013 dalam Novrialdy, 2019). Populernya game online saat ini disebabkan oleh kemudahan dalam mengaksesnya, game online biasanya dimainkan melalui beberapa media diantaranya komputer, konsol game (alat yang digunakan khusus untuk bermain game), dan smartphone (Kiraly, dkk., 2014 dalam Novrialdy, 2019). Berdasarkan penelitian (dalam Suryanto, 2015) jenis game online yang diminati oleh anak usia sekolah adalah kategori game petualangan seperti game online Dragon Nest dan Ragnarok. Selain itu, berdasarkan penelitian Guno (2018) game online yang paling banyak diminati yaitu Dota 2 yang juga termasuk kategori game petualangan. Penulis juga mengamati lingkungan sekitar, cukup banyak anak usia sekolah yang bermain game online dengan kategori petualangan seperti Dota 2, Dragon Nest dan Ragnarok.

Game online memiliki dampak positif maupun negatif, terkhusus untuk anak usia sekolah. Dampak positif game online diantaranya sebagai media hiburan, ketika merasa bosan, stress dan penat, perasaan tersebut sedikit demi sedikit dapat berkurang dengan bermain game (Russoniello, dkk., 2009 dalam Novrialdy, 2019). Selain itu, juga dapat mengembangkan motorik halus anak koordinasi tangan dan mata. Namun, yang penulis amati saat ini game online cukup banyak dimainkan secara berlebihan sehingga memunculkan dampak negatif berupa kecanduan bermain game online sebagai media untuk menghindar dari kehidupan nyata (Hussain & Griffiths, 2009 dalam Novrialdy, 2019).

Kecanduan game online adalah individu yang bermain game online, role playing games, dan permainan interaktif melalui jaringan internet secara berlebihan. Menurut Young (2009 dalam Novrialdy, 2019), tanda-tanda bahwa anak mengalami kecanduan game online diantaranya setiap hari dan dalam durasi lebih dari 4 jam anak bermain game online, anak merasakan kegelisahan dan marah ketika tidak bermain game online, dan anak mengorbankan atau melewatkan kegiatan sosial serta kegiatan yang lainnya hanya untuk bermain game online. Hal tersebut dapat mempengaruhi jadwal kehidupan sehari-hari anak, seperti anak menjadi malas belajar, sulit untuk tidur, dan makan sesuai dengan waktunya (Tedjasaputra, 2020).

Hasil penelitian Sanditaria, dkk., (2012 dalam Susanti, dkk., 2018) disimpulkan bahwa penelitian tersebut menggunakan 71 responden anak usia sekolah yang termasuk anak yang aktif bermain game online, didapatkan hasil 38% responden tidak kecanduan game online dan terdapat 62% responden yang termasuk ke dalam kategori kecanduan game online. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa persentase anak usia sekolah yang kecanduan bermain game online lebih banyak yaitu 62%, beberapa diantaranya anak yang kecanduan game online banyak menghabiskan waktu hanya untuk bermain saja, sampai melewati kegiatan dalam kehidupan sehari-harinya seperti tidak mandi, makan dan mengerjakan tugas yang merupakan tanggung jawabnya.

Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan diatas, kecanduan game online dapat memberikan dampak yang buruk bagi anak usia sekolah. Sehingga memerlukan upaya agar anak usia sekolah dapat terhindar dari kecanduan game online. Sehingga dalam artikel ilmiah ini, penulis tertarik untuk fokus menggali apa saja dampak dan upaya pencegahan yang dapat dilakukan berkaitan dengan kecanduan game online dikalangan anak usia sekolah.

Metode

Artikel ini menggunakan studi literatur dengan menganalisis beberapa kajian yang berkaitan dengan topik pembahasan yaitu tentang dampak dan upaya pencegahan kecanduan game online pada anak usia sekolah. Rujukan yang menjadi pokok bahasan bersumber dari jurnal artikel yang bermaksud untuk meninjau dampak dan upaya pencegahan kecanduan game online pada anak usia sekolah.

 

Pembahasan

Kecanduan Game Online pada Anak Usia Sekolah

Menurut Arthur T. Hovart (1989 dalam Kusumadewi, 2009) kecanduan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang yang dapat memunculkan dampak negatif. Contoh kecanduan yang muncul bisa berbagai macam yang dapat berakibat mengkonsumsi suatu zat atau melakukan kegiatan tertentu, seperti bermain judi, overspending, shoplifting, kegiatan yang berhubungan dengan seksual, dll. Menurut Keepers (1990 dalam Kusumadewi, 2009) Kecanduan video games termasuk pada salah satu perilaku tersebut.

Menurut Lance Dodes (dalam Kusumadewi, 2009) pada buku karyanya yang berjudul “The Heart of Addiction” terdapat dua jenis kecanduan, diantaranya physical addiction (jenis kecanduan yang berkaitan dengan alkohol atau kokain) dan non-physical addiction (jenis kecanduan yang tidak melibatkan dua hal diatas yaitu alkohol atau kokain). Kecanduan game online termasuk pada jenis non-physical addiction.

World Health Organization (2018 dalam Novrialdy, 2019) menjelaskan bahwa kecanduan game online termasuk ke dalam gangguan mental yang dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11). Kecanduan game online ditandai dengan gangguan kontrol pada game yang dapat meningkatkan keutamaan terhadap bermain game dibandingkan pada kegiatan lainnya. Ketika perilaku kecanduan bermain game tersebut terus menerus dibiarkan begitu saja dapat berdampak negatif untuk individu, khususnya anak usia sekolah. World Health Organization (dalam Mardta, 2015) juga menjelaskan definisi anak usia sekolah yaitu yang memiliki rentang usia antara 7-15 tahun, sedangkan jika di Indonesia lazimnya dikatakan anak usia sekolah yang rentang usianya 6-12 tahun. Seorang anak dapat dikatakan mengalami kecanduan game online biasanya yang menghabiskan waktu selama 2-10 jam per hari (Kusumadewi, 2012 dalam Guno, 2018) bahkan sampai pada menghabiskan waktu selama 39 jam dalam seminggu (Young, 1998 dalam Guno, 2018) atau rata-ratanya sekitar 20-25 jam dalam seminggu (Chen & Chou; Chou & Hsiao, dalam Guno, 2018) hanya untuk bermain game online.

Penelitian yang dilakukan Jap, dkk., (2014 dalam Guno, 2018) mengungkapkan bahwa persentase anak usia sekolah di Indonesia pada tahun 2017 yang mengalami kecanduan bermain game online adalah sebesar (10.15%). Sehingga, fenomena kecanduan game online ini sudah sangat populer dan memprihatinkan saat ini di Indonesia, khususnya pada anak usia sekolah yang sudah menjadi pecandu bermain game online.

Dampak Kecanduan Game Online pada Anak Usia Sekolah

Menurut Susanti, dkk., (2018) terdapat dampak negatif yang timbul ketika anak usia sekolah memiliki kebiasaan bermain game sampai pada tahap kecanduan, salah satunya berdampak pada kesehatan anak yaitu anak lebih memilih bermain game dibandingkan makan, sehingga anak menjadi sulit makan dan pola makannya tidak teratur. Selain itu, dapat mengganggu sistem saraf dan otak pada anak yang mengakibatkan anak tidak mau untuk belajar, mudah sekali marah, sulit untuk diatur, serta munculnya perkataan yang buruk karena sering bermain game online (Kusmawati, 2014).

Menurut Suryanto (2015), selain berdampak pada kesehatan, berlebihan dalam bermain game online juga dapat berdampak negatif pada prestasi akademiknya yaitu menjadi rendah, jarang berolahraga, boros ketika mempunyai uang biasanya digunakan tidak sebagaimana mestinya seperti untuk membeli pulsa internet, dan voucher game. Kecanduan bermain game online berdampak pada tidak tertariknya dalam melakukan kegiatan lainnya, anak dapat memiliki sifat individualis dan sulit bersosialisasi dengan teman yang berada di kehidupan nyata (Kurniasari, 2019).

Dampak yang terjadi ketika anak usia sekolah mengalami kecanduan game online diantaranya meliputi lima aspek yaitu aspek kesehatan, aspek psikologis, aspek akademik, aspek sosial, dan aspek keuangan (King & Delfabbro, 2018 dalam Novrialdy, 2019).

Aspek Kesehatan

Kecanduan game online dapat berdampak negatif pada aspek kesehatan anak usia sekolah, diantaranya dari segi jasmani kesehatan anak menjadi menurun karena anak terlalu sering bermain game dan lupa waktu, sulit untuk makan dan pola makan tidak teratur membuat daya tahan tubuhnya menjadi lemah akibatnya anak kurang berkegiatan secara fisik, jarang sekali bergerak atau terlalu lama duduk (Telkomsel, 2017 dalam Susanti, dkk., 2018). Selain itu, ketika anak kecanduan bermain game anak menjadi terus menerus melihat layar monitor atau smartphone yang dapat merusak mata anak, sehingga hal tersebut tidak baik untuk kesehatan anak, serta dapat mengganggu sistem saraf dan otak pada anak yang mengakibatkan anak mudah sekali marah, sulit untuk diatur, serta munculnya perkataan yang buruk karena sering bermain game online (Kusmawati, 2014).

Aspek Psikologis

Kecanduan game online dapat berdampak negatif pada aspek psikologis anak usia sekolah, ketika anak mengalami kekalahan akibat dari bermain game online, setelah itu anak memunculkan sikap marah, emosional, dan terkadang anak memukul meja warung internet serta sering berteriak dengan keras yang dapat membuat orang disekitar tidak nyaman (Yayu, 2015 dalam Mertika & Mariana, 2020).

Perilaku yang dilakukan oleh anak usia sekolah di atas menunjukkan bahwa kecanduan game online dapat merusak karakter anak jika dibiarkan terus menerus. Jika sudah terus menerus dilakukan, nantinya akan menjadi suatu kebiasaan yang dapat merusak karakter anak.

Aspek Akademik

Kecanduan game online dapat berdampak negatif pada aspek akademik anak usia sekolah, diantaranya anak sulit berkonsentrasi dan hilang ketertarikan dalam pelajaran serta tidak mau mengerjakan tugas sekolah, karena ketika anak berada di sekolah yang selalu dipikirkan oleh anak hanya tentang game online yang dimainkannya sehingga ingin segera pulang sekolah untuk bermain game online.

Kecanduan game online pada anak dapat membuatnya lupa dengan tugas utamanya yaitu belajar, sekolah, mengerjakan tugas, beribadah, dan membantu orangtua (Pakpahan, 2018). Hal tersebut jika dibiarkan terus menerus tanpa adanya upaya untuk menangani kecanduan bermain game online, pada aspek akademik dapat berpengaruh terhadap menurunnya prestasi belajar anak di sekolah.

Aspek Sosial

Kecanduan game online dapat berdampak negatif pada aspek sosial anak usia sekolah, diantaranya anak menjadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain game online, sehingga berkurangnya sosialisasi dengan orang lain di lingkungan sekitar, dan menimbulkan rasa tidak ingin bermain dengan teman-teman sebayanya secara nyata, lebih memiliki sifat individual menikmati kesendirian dengan game yang dimainkannya (Pakpahan, 2018).

Selain itu, anak juga sulit untuk berekspresi dan berinteraksi dengan orang lain, karena anak hanya terbiasa berinteraksi secara satu arah saja yakni di depan monitor atau smartphone. Sehingga, ketika anak dihadapkan dengan teman atau orang di sekitar, anak tidak tahu seharusnya bersikap bagaimana dan seperti apa (Pakpahan, 2018).

Aspek Keuangan

Kecanduan game online dapat berdampak negatif pada aspek keuangan anak usia sekolah, menurut penelitian Suryanto (2015) responden yang ditelitinya menginformasikan bahwa yang dirasakan ketika bermain game online adalah boros ketika mempunyai uang, biasanya uang tersebut dihabiskan hanya untuk bermain game online saja. Responden biasanya menggunakan uangnya untuk membeli voucher game online berupa chip, gold dll., sesuai dengan jenis game yang dimainkan anak, biaya penyewaan komputer warnet (billing), makan dan minum selama di warnet, biaya pulsa internet dan lainnya yang membuat uang saku yang orangtua berikan atau uang tabungannya dihabiskan hanya untuk bermain game online.

Peran Pencegahan Kecanduan Game Online pada Anak Usia Sekolah

Pencegahan merujuk pada berbagai macam intervensi yang memiliki tujuan untuk menghalangi atau menghindari dari suatu keadaan yang memiliki resiko bermasalah (O’Connell, dkk., 2009 dalam Novrialdy, 2019). Dalam hal ini pencegahan dilakukan kepada anak usia sekolah agar tidak kecanduan dalam bermain game online.

Upaya pencegahan kecanduan game online pada anak usia sekolah dapat dilakukan dengan bantuan dari berbagai peran, seperti peran orangtua, keluarga, sekolah, dan guru.

Peran Orangtua/keluarga

Orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencegahan kecanduan game online pada anak usia sekolah, karena orangtua/keluarga merupakan tempat pertama untuk anak dapat belajar, dan anak usia sekolah memiliki waktu lebih banyak di rumah dibandingkan sekolah. Maka dari itu, peran orangtua penting untuk dapat membentuk sikap, perilaku dan karakter anak. Hal-hal yang dapat dilakukan orangtua seperti mengarahkan dan mendisiplinkan anak agar anak dapat mengelola waktu bermain dengan baik.

Menurut Andina (2019) orangtua dalam mendisiplinkan anak dapat menggunakan prinsip pemberian hadiah (reward) atau hukuman (punishment). Orangtua dapat belajar untuk memahami anak lebih dalam dan memunculkan kesadaran orangtua untuk memodifikasi perilaku anak kemudian dapat mengawasi anak dalam penggunaan smartphone. Upaya orangtua dalam melakukan pencegahan kecanduan game online ini tujuannya agar anak memiliki kontrol dalam bermain game, penggunaannya agar tidak berlebihan sehingga tidak mengganggu proses belajar dan prestasi anak di sekolah.

Upaya yang dilakukan oleh orangtua/keluarga terhadap pendidikan anak untuk mencegah kecanduan game online pada anak usia sekolah berupa (Riyadi, 2018):

  1. Membantu anak mengatur waktu belajar;
  2. Mengembangkan keterampilan belajar yang baik kepada anak;
  3. Meningkatkan motivasi anak dalam mengerjakan pekerjaan sekolah;
  4. Mengatasi masalah belajar dan tingkah laku anak;
  5. Perhatian orang tua dalam memeberikan fasilitas belajar kepada anak;
  6. Memajukan pendidikan dalam keluarga.

Peran Sekolah/Guru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah melakukan upaya untuk melarang anak usia sekolah khususnya siswa Sekolah Dasar untuk membawa gawai ke sekolah, tetapi untuk siswa SMP dan SMA masih diberikan izin menggunakan gawai hanya untuk menghubungi orangtua dan mengunduh materi mata pelajaran tertentu. Tidak hanya itu, Pemprov Jawa Barat juga berencana akan bekerja sama dengan PKK Jawa Barat agar membuat suatu program yang bernama Setangkai (Sekolah tanpa Gangguan Gawai). Program tersebut bertujuan agar dapat membatasi penggunaan gawai pada siswa di sekolah.

Ditetapkannya peraturan pemerintah, mewajibkan pihak sekolah menerapkan aturan untuk membatasi penggunaan gawai pada siswa di sekolah. Selain itu, guru juga dapat berperan untuk mendidik siswa agar dapat disiplin dan mengarahkan siswa untuk memanfaatkan gawai dengan baik, khususnya untuk anak sekolah dasar. Peran sekolah dan guru tetap harus dibantu oleh orangtua & keluarga di rumah agar dapat membentuk sikap disiplin kepada siswa dalam penggunaan gawai serta dalam bermain game (Andina, 2019).

Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah/guru untuk mencegah kecanduan game online pada anak usia sekolah, berupa (Adiningtiyas, 2017):

  1. Guru memberikan pengertian kepada siswa terkait dengan bahaya dan dampak buruk dari kecanduan game online, pesan tersebut disampaikan ketika jam belajar sedang berlangsung.
  2. Pihak sekolah melakukan razia terhadap benda-benda yang tidak seharusnya dibawa ke sekolah, terutama gawai. Hal ini dilakukan sekolah agar mencegah siswa bermain game di sekolah sehingga siswa tetap disiplin ketika sedang berada di sekolah yang harus dilakukan yaitu belajar bukan bermain game online di sekolah.
  3. Guru berkolaborasi dengan orangtua membahas mengenai upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mengawasi anak agar dapat mencegah anak tidak kecanduan dalam bermain game online.
  4. Guru memberikan pekerjaan rumah secara kelompok kepada siswa, agar siswa dapat berdiskusi bersama-sama dengan teman sekelasnya sehingga dapat mengalihkan perhatiannya dari bermain game online.

 

Kesimpulan

Fenomena kecanduan game online di berbagai kalangan, khususnya dikalangan anak usia sekolah dapat menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif kecanduan game online yang terjadi pada anak usia sekolah meliputi lima aspek kehidupan diantaranya aspek kesehatan; aspek psikologis; aspek akademik; aspek sosial; dan aspek keuangan.

Dalam aspek kesehatan, kecanduan game online dapat membuat anak lupa waktu, sehingga sulit untuk makan, pola tidur tidak teratur membuat daya tahan tubuh menurun, jarang bergerak karena terlalu lama duduk dan anak terlalu sering menatap layar smartphone dapat mengalami kerusakan mata; dalam aspek psikologis, kecanduan game online dapat memunculkan sikap marah, emosional, sering berteriak keras, khususnya ketika anak mengalami kekalahan. Sikap ini jika terus menerus dibiarkan akan merusak karakter anak; dalam aspek akademik, kecanduan game online dapat membuat anak melupakan tugasnya sebagai pelajar yang harus belajar, sekolah, mengerjakan tugas, beribadah dan membantu orangtua, sehingga membuat prestasi belajar anak menurun; dalam aspek sosial, kecanduan game online dapat membuat anak kurang bersosialisasi dengan orang lain di lingkungan sekitar, menimbulkan rasa tidak ingin bermain dengan teman sebaya di dunia nyata, bersifat individualis, dan jika dihadapkan dengan teman sebaya di dunia nyata, anak kesulitan dalam menyesuaikan diri; dalam aspek keuangan, kecanduan game online dapat membuat anak memiliki perilaku boros ketika memiliki uang, uang tersebut biasanya dihabiskan untuk bermain game online, seperti membeli voucher game, biaya pulsa internet, menyewa warnet, dll.

Dari dampak negatif kecanduan bermain game online tersebut, diperlukan peran pencegahan agar anak tidak kecanduan bermain game online yaitu dengan dibantu oleh peran orangtua, keluarga, sekolah dan guru. Peran orangtua dan keluarga terhadap anak yaitu membentuk sikap, perilaku dan karakter anak. Mengarahkan dan mendisiplinkan anak agar dapat mengelola waktu bermain dengan baik dengan berbagai upaya yang dilakukan, seperti membantu anak mengatur waktu belajar, mengembangkan keterampilan belajar anak, memotivasi anak dalam mengerjakan pekerjaan sekolah, menyadari kesulitan belajar anak serta mengatasinya, memberikan fasilitas belajar anak dan memajukan pendidikan dalam keluarga; sedangkan peran sekolah dan guru, pihak sekolah berupaya untuk menerapkan peraturan untuk membatasi penggunaan gawai di sekolah, guru berupaya mendidik anak menjadi disiplin dan mengarahkan anak untuk memanfaatkan gawai dengan bijak. Upaya yang dilakukan guru dengan memberikan pemahaman terkait bahaya dari kecanduan game online, pihak sekolah melakukan razia penggunaan gawai di lingkungan sekolah, guru bekerjasama dengan orangtua untuk mengawasi anak ketika dirumah, dan guru memberikan pekerjaan sekolah secara kelompok, agar dapat mengalihkan perhatiannya dari bermain game online.

 

Daftar Pustaka

Buku:

Tedjasaputra, M. S. (2020). Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta: PT Grasindo.

Jurnal:

Adiningtiyas, A. W. (2017). Peran guru dalam mengatasi kecanduan game online. Jurnal KOPASTA, 4(1), 28 – 40.

Andina, E. (2019). Pencegahan kecanduan gim daring pada anak. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis, 11(21), 13 – 18.

Kusmawati, I. A. (2014). Pengaruh games online terhadap perkembangan bahasa anak usia 9-10 tahun di Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Personifikasi, 5(2), 164 – 185.

Mertika., & Mariana, D. (2020). Fenomena game online di kalangan anak sekolah dasar. Journal Of Educational Review And Research, 3(2), 99 – 104.

Novrialdy, E. (2019). Kecanduan game online pada remaja: Dampak dan pencegahannya. Buletin Psikologi, 27(2), 148 – 158.

Suryanto, R. N. (2015). Dampak positif dan negatif permainan game online dikalangan pelajar. Jom FISIP, 2(2), 1 – 15.

Susanti, M. M., Widodo, W. U., & Safitri, D. I. (2018). Hubungan kecanduan bermain game online pada smartphone (mobile online games) dengan pola makan anak sekolah dasar kelas 5 dan 6 di SD Negeri 4 Purwodadi. The Shine Cahaya Dunia Ners, 3(2), 28 – 39.

 

Skripsi:

Guno, D. C. (2018). Gambaran perilaku kecanduan game online pada anak usia sekolah di wilayah Kecamatan Magetan. (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas Ilmu Kesehatan).

Kurniasari, A. (2019). Dampak bermain game online terhadap pelaksanaan ibadah remaja di Dusun Simpang Rowo Desa Dadapan Kecamatan Sumberejo Kabupten Tanggamus. (Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi).

Kusumadewi, T. N. (2009). Hubungan antara kecanduan internet game online dengan keterampilan sosial pada remaja. (Skripsi, Universitas Indonesia, Fakultas Psikologi).

Mardta, R. (2015). Hubungan penggunaan media online : Game online dengan perilaku kekerasan pada anak sekolah dasar (SD) di SD.S Trisula Perwari Kota Bukittinggi. (Skripsi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Sumatera Barat, Fakultas Ilmu Keperawatan).

Pakpahan, R. (2018). Game online dan pengaruhnya terhadap prestasi akadmik anak di Kelurahan Helvetia Kotas Medan. (Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

Demikian artikel sehatmental.net mengenai dampak dan pencegahan kecanduan game online pada anak usia sekolah. Terima kasih, semoga artikel ini bermanfaat.

2 Comments
  1. M.K.R says

    Sangat menarik pembahasannya, sangat relevan sekali mengingat kita ketahui bersama di zaman teknologi maju seperti saat ini banyak sekali anak anak yang terfokus pada gadget maupun permainan online nya

  2. M.K.R says

    Sangat menarik pembahasannya, dan sangat relevan sekali dengan kondisi saat ini

Leave A Reply

Your email address will not be published.