Fobia Sekolah: Pengertian, Tipe, Faktor Penyebab, & Penanganan

0 14

Kasus Fobia Sekolah

Berikut ini adalah contoh kasus ilustrasi seorang anak mengalami fobia sekolah:

Andi (sebut saja nama samaran) memiliki ketakutan ketika akan bersekolah. Berbagai alasan ia kemukakan ke orang terdekatnya ketika akan berangkat ke sekolah. Jam masuk sekolah adalah pukul 07.30. Gejala mulai Andi tunjukkan di jam 6an. Mulai dari sakit perut, mual, sakit kepala ia laporkan kepada Ibu atau orang di sekitarnya. “Ma, perut Andi sakit, gak tahu kenapa sakit ni, Ma”, “Ma, boleh gak Andi gak perlu ke sekolah?”, “Ma, Andi perlu tidur dan istirahat sebentar ya”, dan ketika mendekati pukul 07.30, perasaan Andi semakin tidak jelas, berbagai keluhan lain ia sebutkan.

Anehnya, ketika melewati jam sekolah, keluhan yang ia sebutkan dan laporkan ke Mamanya mendadak hilang. Keluhan fisik ini akan ada kembali di hari berikutnya menjelang pukul 07.30. Keluhan fisiknya dari hari ke hari berbeda-beda. Namun, kondisinya sama dengan haru sebelumnya, yaitu ketika melewati jam sekolah, ia akan Nampak sehat bugar dan tampak tidak ada masalah dengan kesehatan fisiknya. Kondisi Andi setelah pukul 8, Andi akan menunjukkan fisik yang sehat dan tidak ada masalah. Sangat berbeda dengan kondisi saat hendak masuk sekolah. Di rumah, Andi bisa bermain game, dan bermain mainan lainnya. Sakit fisik tidak ia tunjukkan sama sekali.

Orangtua juga sudah melakukan pemeriksaan fisik di klinik kesehatan dekat rumah Andi. Hasilnya adalah tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Dengan kata lain, kondisi Andi baik-baik saja.

Sedikit cerita mengenai permasalahan Andi di sekolah. Andi merupakan anak yang pendiam di kelas. Andi memiliki masalah dalam menjalin hubungan sosial dengan baik dengan teman dan orang-orang di sekitar sekolah.  Bisa dikatakan ia minder atau kurang percaya diri. Ia sulit melakukan kontak mata dan menyusun kalimat ucapan dengan baik. Ia seringkali terbata-bata dalam berkomunikasi dengan temannya. Sebenarnya keterbata-bataannya ini tidak selalu ia tunjukkan. Namun seringnya, ketidakmampuan ini muncul ketika ia berada di sekolah. Di rumah, ketidakmampuan ini sesekali saja muncul.

Akibat kesulitannya dalam berkomunikasi dengan teman dan orang di sekitar sekolah membuatnya sering mendapat ejekan dari teman kelasnya. Pernah suatu waktu, seorang petugas kebersihan di sekolah yang tidak mengetahui kondisi dan permasalahan Andi mengatakan hal ini kepadanya “Ngomongmu kok kayak gitu, kayak anak kecil dan gak jelas ngomong apa. Ngomong tu gak usah kumur-kumur”. Sejak itu dan seringnya ia mendapat perlakuan negatif dari temannya, membuatnya semakin minder dan sedih. Andi tidak menceritakan permasalahannya kepada Ibu dan keluarganya, karena ia takut dan sulit untuk mengkomunikasikannya. Informasi ini diketahui setelah Ibu memancing Andi bercerita dan ceritanya baru bisa dipahami setelah selang waktu seminggu.

(Cerita di atas adalah gambaran ilustrasi mengenai kasus fobia sekolah)

 

Berbagai istilah digunakan untuk menjelaskan ketidakhadiran di sekolah. Istilah tersebut diantaranya yaitu bolos (truancy), fobia sekolah dan menolak sekolah (school refusal). Bolos awalnya diperuntukkan bagi anak-anak yang sengaja tidak hadir ke sekolah (Witts, 2007; Heyne et al, 2001; Lyon, 2007). Sementara istilah Fobia sekolah tidak sesuai apabila anak benar-benar mengalami sakit atau mengalami hambatan untuk datang ke sekolah (VIskochil, 2006) (dalam Ermiati & Ghozali, n.d.).

Istilah fobia sekolah atau sering disebut sebagai menolak sekolah (school refusal) merupakan salah satu bentuk dari fobia spesifik yang objeknya khusus yaitu sekolah (Witts, 2007). Angka kejadiannya adalah 2%-5% dan penyebabnya adalah rasa cemas, terus meningkat kira-kira 28 % (Kearney, 2001; Wimmer, 2008). Seringnya tidak hadir di sekolah akan mempengaruhi proses belajar anak, prestasi akademik, dan perkembangan sosial anak. Para guru dan pimpinan sekolah seharusnya memahami penyebab dari perilaku menolak sekolah dan menyadari perlunya strategi intervensi yang efektif (dalam Ermiati & Ghozali, n.d.).

Pengertian Fobia Sekolah

Fobia berasal dari kata Yunani yaitu phobos, yang berarti “takut”. Konsep takut dan cemas berkaitan erat. Takut merupakan perasaan cemas dan agitasi sebagai respons terhadap suatu ancaman. Gangguan fobia adalah rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi (Hal, J.S., 2003 dalam Auli, 2015).

Fobia sekolah adalah gangguan kecemasan akan perpisahan pada anak yang tidak sesuai dengan perkembangannya. Anak cenderung akan menolak ketika pergi ke sekolah karena takut bahwa sesuatu akan terjadi pada orangtua ketika mereka pergi (Hal, J.S., 2003 dalam Auli, 2015).

Kearney (2006, dalam Ampuni & Andayani, 2007) mendefinisikan fobia sekolah sebagai penolakan terhadap sekolah apapun alasannya. Menurutnya, anak usia sekolah dapat disebut mengalami fobia sekolah, jika:

Pertama, anak sama sekali meninggalkan sekolah (absen terus menerus), atau

Kedua, anak masuk sekolah tetapi kemudian meninggalkan sekolah sebelum jam sekolah usai, atau

Ketiga, anak mengalami perilaku bermasalah yang berat setiap pagi menjelang pergi ke sekolah, misalnya mengamuk, atau

Keempat, anak pergi ke sekolah dengan kecemasan yang luar biasa dan di sekolah berulang kali mengalami masalah (misalnya pusing, ke toilet, berkeringat dingin).

Wenar (dalam Auli, 2015) menyebutkan bahwa fobia sekolah merupakan suatu ketakutan yang irrasional (tidak masuk akal) pada beberapa aspek situasi sekolah yang diikuti dengan gejala-gejala kecemasan atau panic, gejala secara fisiologis yang datangnya tiba-tiba dan mengakibatkan anak tidak bisa pergi sekolah (baik sebagian jam sekolah bahkan sama sekali tidak bersekolah).

Durlak (Ampuni & Andayani, 2007) menyatakan adanya emotional distress yang dialami anak-anak dengan fobia sekolah ini, yang ditandai dengan rasa takut yang kurang beralasan jika harus pergi ke sekolah. Mereka bisa sangat merasa ketakutan dan mereka tidak mau meninggalkan rumah. Anak-anak yang mengalami fobia sekolah, ketika hari itu dia harus sekolah biasanya akan mengeluh sakit kepala, sakit perut, sakit tenggorokan maupun yang lain ketika bangun tidur. Namun, ketika mereka sudah kembali berada di rumah tiba-tiba sakit itu menghilang dan akan timbul lagi keesokan harinya ketika dia harus berangkat sekolah lagi.

Tipe-tipe Fobia Sekolah

Tingkatan dan Jenis Penolakan Terhadap Sekolah Para ahli menunjuk adanya beberapa tingkatan fobia sekolah, mulai dari yang ringan hingga yang berat (fobia), yaitu (dalam Rini, 2002):

Initial school refusal behavior, adalah sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (seketika/ tiba-tiba) yang berakhir dengan sendirinya tanpa perlu penanganan.

Substantial school refusal behavior, adalah sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu.

Acute school refusal behavior, adalah sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah

Chronic school refusal behavior, adalah sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun, bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu

Faktor-faktor Penyebab Fobia Sekolah

Penyebab terjadinya fobia sekolah bervariasi, namun secara umum Setzer & Salzhauer (2006, dalam Ampuni & Andayani, 2007) menyebutkan empat alasan untuk menghindari sekolah yaitu:

Pertama, untuk menghindari objek-objek atau situasi yang berhubungan dengan sekolah yang mendatangkan distress

Kedua, untuk menghindar dari situasi yang mendatangkan rasa tidak nyaman baik dalam interaksi dengan sebaya atau dalam kegiatan akademik

Ketiga, untuk mencari perhatian dari significant others di luar sekolah, dan

Keempat, untuk mengejar kesenangan di luar sekolah.

Fobia sekolah juga biasanya dikaitkan dengan masalah atau faktor keluarga. Ada kaitan fobia sekolah pada anak yang pola interaksi kurang sehat dalam keluarga, misalnya adanya ketergantungan yang berlebihan antar anggota keluarga, masalah komunikasi, serta masalah pembagian peran dalam keluarga (Fremont, 2003; Hogan, 2006, dalam Ampuni & Andayani, 2007).

Anak dengan fobia sekolah biasanya juga menunjukkan tipe kepribadian yang khas. Hogan (2006) menyebutkan mereka cenderung mempunyai kepribadian yang sensitive, peka terhadap kritik dan evaluasi. Mereka kurang mampu mengelola emosi. Gelfand dan Drew (2003) menyatakan bahwa sebagian anak yang mengalami fobia sekolah adalah perfeksionis yang menunjukkan perhatian berlebihan tentang performansi akademik (dalam Ampuni & Andayani, 2007).

Faktor penyebab lainnya dijelaskan oleh Neville King et al (2005, dalam Ermiati & Ghozali, n.d.), yaitu:

 

Faktor Predisposisi dan Presipitasi

Contoh

Individu
  • sensitif terhadap stress, temperamental, kecemasan, onset dari depresi
  • tidak hadir ke sekolah karena mengalami masalah kesehatan
  • kesulitan dalam masalah akademik
  • penguatan negatif melalui penghindaran terhadap aspek yang penuh stres di sekolah
  • rendahnya efikasi diri
  • depresi yang berkelanjutan.
Keluarga dan lingkungan rumah
  • orang tua dalam kondisi sakit
  • masalah pernikahan dan masalah keluarga lainnya (kesulitan dalam masalah perekonomian, tekanan/ tuntutan dalam pekerjaan, masalah hubungan sosial)
  • menolak sekolah karena adanya persaingan dengan saudara
  • ibu selalu mengkomentari prestasi
  • penguatan positif melalui akses berbasis pengalaman di rumah
  • televisi, komputer, binatang peliharaan, makanan, perhatian orang tua)
  • pendekatan orangtua yang tidak konsisten terhadap pengelolaan tentang ketidakhadiran)
  • menurunnya efektifitas orangtua (kurangnya perhatian terhadap kemajuan anaknya, penerapan perintah yang tidak efektif
  • Adanya distres orangtua dan rendahnya efikasi diri.
Sekolah
  • pengalaman tidak menyenangkan di sekolah (bullying, yang dilakukan sekelompok murid, pengalaman tidak menyenangkan ketika di kelas bersama guru, terkucilkan dari kelompok)
  • ujian/ tes, presentasi di kelas, pelajaran olah raga di kelas, dan sebagainya
  • adanya perubahan di sekolah
  • tidak pernah meraih kesuksesan di sekolah
  • komunikasi antara keluarga dengan sekolah yang minimal
  • tidak adanya respon /perhatian terhadap kembalinya anak masuk ke sekolah
  • tidak adanya pemberitahuan dan dukungan staf sekolah terhadap ketidakhadiran anak
Faktor kelompok atau grup
  • meningkatnya persaingan dalam akademik
  • masalah ekonomi yang berpengaruh pada keefektifan sekolah
  • kekerasan/peristiwa traumatik disekitar lingkungan sekolah
  • kurangnya dukungan dari orangtua/keluarga dalam menghadapi school refusal
  • Saran dari profesional yang tidak konsisten/ pendekatan terhadap managemen/pengelolaan ketidakhadiran

Penanganan atau Tritmen Fobia Sekolah

Fobia Sekolah

Penanganan atau tritmen pada anak-anak yang mengalami fobia sekolah harus ditujukan untuk mengembalikan mereka ke sekolah seawal mungkin (Fremont, 2003). Tritmen yang efektif sebaiknya segera dilakukan untuk mencegah permasalahan-permasalahan yang akan timbul di kemudian hari, sehingga fobia sekolah harus ditangani sedini mungkin (Hogan, 1996). Dalam Fremont (2003) disebutkan bahwa pilihan tritmen antara lain meliputi edukasi dan konsultasi, pendekatan perilaku, intervensi yang melibatkan keluarga, dan mungkin juga dengan cara farmakoterapi.

Terapi dengan pendekatan educational support menunjukkan hasil yang efektif sebagai terapi perilaku untuk manajemen fobia sekolah. Terapi yang melibatkan sesi secara individu memasukkan latihan relaksasi (untuk membantu anak ketika dia mendekati lingkungan sekolah atau ditanyai teman sebayanya), terapi kognitif (untuk mengurangi kecemasan yang memunculkan berbagai pemikiran dan menyiapkan pernyataan coping), training social skills (untuk mengembangkan kompetensi sosial dan interaksi dengan teman sebaya), dan desensitisasi (misalnya emotive imagery, sentisisasi yang sistematis). Intervensi yang melibatkan orangtua dan guru merupakan faktor yang membantu untuk mencapai tritmen yang efektif. Personil yang ada di sekolah sebaiknya merupakan orang pertama yang dilibatkan dalam menangani permasalahan (Ampuni & Andayani, 2007).

Penanganan dengan medikasi (medikamentosa: golongan SSRI dan Benzodiazepin dalam jangka pendek) dan CBT juga efektif menurunkan kecemasan (59%), dengan pilihan obat Sertralin misalnya menunjukkan keberhasilan 54,9% (Kendal, 1994, 1997; Walkup et al., 2008; Stallard, 2013). Sementara teknik CBT terdiri atas 1) desensitisasi sistematik, 2) terapi implosive dan pembanjiran, 3) latihan assertive, 4) terapi aversi, 5) pengkondisian operan, 6) positive reinforcement, 7) pembentukan respon, 8) intermiten reinforcement, 9) penghapusan, 10) modelling/ pencontohan, 11) Token ekonomi (Corey, diterjemahkan Koswara, 2005, dalam Ermiati & Ghozali, n.d.).

Cara mengatasi permasalahan anak dengan fobia sekolah, khususnya bagaimana perlakuan orangtua, dapat dilihat pada artikel ini (silahkan klik).

Demikian pembahasan mengenai fobia sekolah.

 

Referensi

Ampuni, S. & Andayani, B. (2007). Memahami anak dan remaja dengan kasus mogok sekolah: Gejala, penyebab, struktur kepribadian, profil keuarga, dan keberhasilan penanganan. Jurnal Psikologi, 34(1), 55 – 75, diakses dari https://jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7089

Auli, I. D. (2015). Studi kasus siswa fobia sekolah SDIT Salsabila 2 Klaseman Sleman Yogyakarta (Skripsi). Diakses dari http://digilib.uin-suka.ac.id/19629/1/11220025_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Ermiati & Ghozali, E. W. (n.d.). Terapi Kognitif dan Perilaku (CBT) pada Fobia Sekolah. Diakses dari http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-pjsac5d51fa09full.pdf

Rini, J.F. (2002). Fobia Sekolah. Diakses dari https://www.academia.edu/4746505/Fobia_Sekolah?auto=download

Leave A Reply

Your email address will not be published.