Gangguan Kecemasan: Definisi, Ciri, Jenis, dan Penanganan

0 15

Artikel sehatmental.net kali ini akan membahas mengenai kecemasan dan gangguan kecemasan.

Contoh Kasus Kecemasan atau Gangguan Kecemasan

Sebut saja Milenial (bukan nama sebenarnya) adalah seorang wanita yang memiliki keluhan seringkali merasa cemas. Cemasnya sudah berlangsung sekitar 3 tahun yang lalu. Akhir-akhir ini, kecemasannya semakin sulit ia kontrol. Apalagi dengan adanya virus corona atau covid-19, menjadikan ia sangat cemas. Berbagai hal sederhana ia cemaskan. Misal saat ada pengantar paket ataupun orang baru datang ke rumahnya, ia akan semakin cemas.

Awalnya, kecemasannya bisa ia kontrol. Namun ketika ia sendiri dan selang beberapa lama kemudian, cemasnya akan kembali dan semakin mengganggu. Berbagai pikiran negatif muncul di pikirannya, misal “bagaimana jika orang tadi membawa virus ke rumah saya, bisa jadi ia bisa menularkan virus kepada saya”, “tangan dan tubuh orang tadi bersih gak ya?”, dan pikiran negatif lainnya. Gejala fisik yang dirasakan adalah gemetar, sulit bernafas (sesak), tidak nafsu makan, dan sulit tidur. Gejala ini berlangsung hampir setiap hari dan sudah berlangsung selama seminggu. Berbagai kejadian yang terkait dengan virus akan membuatnya kembali cemas.

Pengertian Kecemasan (Anxiety)

Kecemasan sebenarnya adalah kondisi yang umum dan wajar dialami oleh setiap individu. Dengan adanya cemas, membuat seseorang bisa selalu waspada dan tentunya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Selain itu, kecemasan bermanfaat bila hal tersebut mendorong kita untuk melakukan pemeriksaan medis secara reguler atau memotivasi kita untuk belajar menjelang ujian.

Kecemasan merupakan suatu kondisi khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Beberapa kondisi yang dicemaskan seperti kesehatan, relasi atau hubungan sosial, ujian, karir atau masa depan, kondisi lingkungan, dan lainnya.

Kecemasan adalah respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman, atau bila sepertinya datang tanpa ada penyebabnya (bukan merupakan respon terhadap perubahan lingkungan. Kecemasan yang butuh penanganan adalah kecemasan yang mengganggu fungsi harian (misalnya tidak ada nafsu makan, sulit makan, sulit tidur, dan lainnya), ada keinginan menyakiti diri atau orang lain, sulit menyesuaikan diri, dan lainnya.

Ciri Kecemasan

Berikut adalah beberapa ciri-ciri kecemasan (gejala anxiety), yaitu:

Ciri Fisik - Gelisah, gugup
- Berkeringat banyak, terkadang panas dingin, atau merasakan panas di bagian tertentu
- Tegang di bagian pundak atau bagian tubuh lainnya
- Jantung berdebar kencang atau sesak napas
- Pusing atau migrain
- Gatal
- Dan lainnya
Ciri Perilaku atau Behavioral - Perilaku menghindar (misal selalu menghindari objek kecemasannya)
- Perilaku melekat dan dependen (misal jadi ketergantungan dengan orang lain)
- Menyendiri atau menutup diri
- Panik atau perilaku tidak terkontrol
- Dan lainnya
Ciri Kognitif - Khawatir tentang sesuatu
- Sangat waspada atau khawatir terhadap perubahan di tubuh
- Sulit berkonsentrasi atau memfokuskan pikiran
- Tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran negatif atau yang mengganggu
- Ketakutan akan kehilangan kontrol
- Ketakutan akan ketidakmampuan mengatasi masalah
- Ketakutan ditinggal sendiri
- Dan lainnya

Jenis Gangguan Kecemasan

Berikut ini adalah beberapa jenis gangguan kecemasan:

Agorafobia, yaitu ketakutan dan penghindaran terhadap tempat atau situasi dimana akan sulit atau memalukan bila harus melarikan diri, atau dimana bantuan tidak mungkin ditemukan bila terjadi serangan panik atau simptom seperti panik.

panik

Gangguan Panik Tanpa Agorafobia, yaitu timbulnya serangan panik yang tidak terduga dan berulang, dan adanya keprihatinan yang berulang atau terus-menerus tentang hal tersebut, tetapi tanpa disertai dengan agorafobia.

Gangguan Panik dengan Agorafobia, yaitu timbulnya serangan panik yang tidak terduga dan berulang, serta adanya keprihatinan yang berulang atau terus-menerus tentang hal tersebut, disertai dengan adanya agorafobia.

Gangguan Kecemasan Menyeluruh, yaitu tingkat kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan serta berulang atau terus-menerus yang tidak terkait dengan suatu objek, situasi atau aktivitas tertentu.

Fobia Spesifik, yaitu kecemasan yang secara klinis signifikan, berhubungan dengan pemaparan terhadap situasi atau objek yang spesifik/khusus, seringkali disertai penghindaran stimuli tersebut.

Fobia Sosial, yaitu kecemasan yang secara klinis signifikan, berhubungan dengan pemaparan terhadap situasi sosial atau situasi performa (harus melakukan sesuatu), seringkali disertai dengan penghindaran terhadap situasi tersebut.

Gangguan Obsesif Kompulsif, yaitu obsesi dan atau kompulsi yang berulang.

Gangguan Stres Pascatrauma, yaitu pengalaman mengalami kembali suatu peristiwa yang sangat traumatis, disertai dengan meningkatnya keterangsangan dan penghindaran stimuli yang diasosiakan dengan peristiwa tersebut.

Gangguan Stres Akut, yaitu gangguan yang memiliki ciri yang serupa dengan gangguan stres pascatrauma tetapi terbatas pada hari-hari atau minggu-minggu sesudah pemaparan terhadap trauma.

 

Faktor Penyebab Gangguan Kecemasan

Berikut adalah beberapa faktor penyebab gangguan kecemasan:

Faktor biologis, seperti pengaruh genetis; masalah pada fungsi neurotransmiter; dan adanya abnormalitas pada jalur otak yang memberi sinyal bahaya.

Faktor sosial lingkungan, seperti pemaparan terhadap peristiwa yang mengancam atau traumatis; mengamati atau meniru respon takut pada orang lain; dan kurangnya dukungan sosial.

Faktor perilaku, seperti pemasangan stimuli aversif dan stimuli yang sebelumnya netral (misalnya karena ada hukuman atau punishment, menyebabkan individu menjadi cemas ketika tidak melakukan hal yang diinginkan atau ia tidak mampu memenuhi “tuntutan” tersebut); kelegaan dari kecemasan karena melakukan ritual kompulsif (berulang) atau menghindari stimuli fobik (operant conditioning); serta kurangnya kesempatan untuk pemunahan (extinction) karena menghindari objek atau situasi yang ditakuti.

Faktor kognitif dan emosional, seperti adanya konflik psikologis yang tidak terselesaikan (unfinish bussiness); faktor kognifif seperti prediksi yang berlebihan terhadap ketakutan, keyakinan yang salah, sensitif berlebihan terhadap ancaman, menyalahartikan sinyal dari tubuh, dan self-efficacy (ragu atau tidak percaya pada kemampuan yang dimiliki) yang tergolong rendah.

Fobia merupakan representasi dari bekerjanya mekanisme pertahanan diri, seperti proyeksi dan pengalihan (displacement). Sebagai contoh, ketakutan terhadap ketinggian dapat menjadi representasi dari usaha ego untuk mempertahankan diri terhadap kemunculan impuls-impuls self-destruction yang mengancam, seperti impuls untuk meloncat dari ketinggian yang berbahaya. Dengan menghindari ketinggian, orang dapat mempertahankan jarak aman dari impuls-impuls yang mengancam seperti itu. Karena proses ini terjadi secara tidak disadari, orang mungkin sadar dengan fobianya, tetapi bukan impuls-impuls tidak sadar yang disimbolkannya.

Penanganan Gangguan Kecemasan

Ada beberapa penanganan pada gangguan kecemasan, diantaranya:

Terapi psikodinamika mendorong klien untuk lebih mengembangkan pola tingkah laku yang lebih adaptif. Contoh pada kasus gangguan relasi, maka klien akan diajarkan perilaku yang efektif dalam menjalin relasi dengan orang lain.

Terapi humanistik fokus kepada membantu klien mengidentifikasi dan menerima dirinya yang sejati dan bukan dengan bereaksi pada kecemasan setiap kali perasaan dan kebutuhannya yang sejati mulai muncul ke permukaan.

Terapi obat dengan memberikan obat medis misalnya benzodiazepin dan obat antidepresan.

Terapi perilaku dan atau CBT, yang melibatkan berbagai teknik seperti terapi pemaparan, restrukturisasi kognitif, pemaparan dan pencegahan respon, serta pelatihan relaksasi.

Terapi kognitif fokus kepada mengidentifikasi dan membetulkan pola pikir yang salah, misalnya dengan terapi tingkah laku rasional-emotif.

Demikian artikel mengenai kecemasan dan atau gangguan kecemasan. Semoga bermanfaat. Jika Anda mengalami gangguan di atas, dan Anda butuh konsultasi psikologi dengan psikolog, bisa menghubungi P2Japsi.

Daftar Pustaka:

Nevid, J.S., Rathus, S.A., Greene, B. (2003). Psikologi Abnormal Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.