Mainan Untuk Anak Autisme : 7 Manfaat Permainan Lego

Salah satu mainan untuk anak autisme adalah permainan lego. Dalam artikel sehatmental.net kali ini akan membahas mengenai manfaat permainan lego dalam mereduksi gangguan interaksi sosial pada anak autis.

MANFAAT PERMAINAN LEGO DALAM MEREDUKSI GANGGUAN INTERAKSI SOSIAL PADA ANAK AUTIS

 

Tasya Siwi Ramadhanti

Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Esa Unggul

Jl. Harapan Indah Boulevard, Bekasi 17214

[email protected]

Abstrak

Kehadiran anak menjadi suatu hal yang sangat dinantikan oleh pasangan suami istri, menantikan anak yang sehat, lucu dan pintar akan membuat pasangan suami istri mampu mempererat tali cinta mereka. Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autis seringkali disebut sebagai anak istimewa karena mereka memiliki karakteristik yang cukup unik. Anak penyandang autis mengalami hambatan dalam berinteraksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak mau menoleh jika dipanggil, tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain, lebih senang bermain sendiri, tidak dapat merasakan empati, seringkali menolak untuk di peluk, menjauh jika di dekati untuk diajak bermain. Salah satu permainan yang dapat digunakan dalam terapi bermain guna mereduksi gangguan interaksi sosial pada anak autis, yaitu permainan lego. Apabila terapi bermain lego dapat diterapkan maka interaksi sosial pada anak penyandang autis akan semakin membaik.

Kata Kunci : autism spectrum disorder, permainan lego, gangguan interaksi sosial

 

Abstract

The presence of children is something that is highly awaited by married couples, waiting for healthy, funny, and smart children will make married couples able to strengthen their love rope. Autism Spectrum Disorder (ASD) or autism is often referred to as special children because they have quite unique characteristics. Children with autism experience obstacles in social interaction, such as avoiding eye contact, not turning around when called, no effort to interact with others, preferring to play alone, unable to feel empathy, often refuse to be hugged, stays away when approached to be invited to play. One of the games that can be used in play therapy to reduce social interaction disorders in autistic children is the lego game. If Lego play therapy can be applied, social interaction in children with autism will improve.

Keywords : autism spectrum disorder, lego game, social interaction disorder

mainan untuk anak autisme

PENDAHULUAN

Kehadiran anak menjadi suatu hal yang sangat dinantikan oleh pasangan suami istri, menantikan anak yang sehat, lucu dan pintar akan membuat pasangan suami istri mampu mempererat tali cinta mereka. Bahkan menurut Hidayah (2013) anak yang terlahir sempurna merupakan harapan semua orang tua, mereka mendambakan memiliki anak yang sehat, baik   secara jasmani maupun rohani. Namun pada kenyataannya, hal tersebut tidak selalu terjadi pada setiap orang tua. Ada pula beberapa orang tua yang memiliki anak istimewa, seperti anak penyandang autis.

Menurut hasil survei dari beberapa negara menunjukkan bahwa 2-4 anak per 10.000 anak berpeluang menyandang autis (Sari, 2009). Prevalensi autis di dunia saat ini mencapai 15-20  kasus per 10.000 anak atau 0,15-0,20%.  Sedangkan angka kelahiran di Indonesia, yaitu enam juta pertahun,  maka jumlah penyandang autis di Indonesia bertambah 0,15% atau 6.900 anak pertahun (Mashabi dan Tajuddin, 2009).

Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang terjadi pada anak-anak dengan kemampuan komunikasi dan sosialisasi yang terganggu. Anak penyandang autis mempunyai gangguan dalam bidang interaksi sosial, yaitu tidak tertarik untuk bermain bersama teman, lebih suka menyendiri, tidak ada atau sedikit kontak mata atau menghindar untuk bertatapan, senang menarik tangan orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan (Rahmawati, 2012). Jika gangguan interaksi sosial tersebut tidak segera ditangani, maka akan sangat berdampak pada proses perkembangan belajar anak.

Apabila gangguan interaksi sosial terus berlanjut sampai dewasa, maka akan menimbulkan dampak yang fatal, misalnya tidak dapat meminta bantuan pada orang lain karena adanya keterbatasan dalam kemampuan berinteraksi sosial, ataupun tidak memiliki kesempatan untuk berkarya atau  mencari pekerjaan, sehingga pada akhirnya tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun kesehatannya (Widyawati, 2002). Sebuah laporan penelitian yang  dilakukan oleh Princeton Child Development Institute pada tahun 1985 telah menegaskan bahwa  dengan melakukan  penanganan  dini  sebelum  usia 5  tahun,  40% – 60%  anak  autis dapat diikutkan dalam sekolah regular (Mourice, 1996).

Penanganan yang biasa digunakan untuk mengatasi gangguan interaksi sosial pada anak penyandang autis, yaitu melakukan permainan lego. Bermain lego adalah cara alamiah bagi setiap anak dalam mengungkapkan masalah terhadap dirinya yang mungkin tidak disadarinya. Permainan lego ini mempunyai kegunaan, yaitu dalam perkembangan sosial, matematis, kreativitas, memecahkan masalah serta kemampuannya dalam berbahasa (Kaplan dan Sadock, 2010). Suryati (2016) melakukan penelitian dimana dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa terapi bermain lego dapat meningkatkan hubungan sosial anak, baik yang normal maupun anak yang menderita autis (Suryati, 2016).

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Firda Nurmala (2017) menyatakan bahwa terdapat pengaruh terapi bermain lego terhadap interaksi sosial pada anak penyandang autis. Penelitian lainnya yang telah dilakukan oleh Yanhui (2010) juga menyatakan bahwa anak penyandang autis akan mampu berhubungan dengan orang lain setelah dirinya diberikan terapi bermain lego.

 

METODE

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi literatur. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan pada penelitian ini, yaitu studi kepustakaan atau studi literatur. Studi kepustakaan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-litaratur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 2003: 111).

Dalam melakukan studi kepustakaan atau studi literatur terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu (Zed, 2008).

  1. Memiliki ide umum mengenai topik penelitian.
  2. Mencari informasi yang mendukung topik.
  3. Mempertegas fokus penelitian.
  4. Mencari dan menemukan bahan bacaan yang diperlukan dan mengklasifikasi bahan bacaan.
  5. Membaca dan membuat catatan penelitian
  6. Mereview dan memperkaya lagi bahan bacaan
  7. Mengklasifikasi lagi bahan bacaan dan mulai menulis.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autis seringkali disebut sebagai anak istimewa karena mereka memiliki karakteristik yang cukup unik. Secara garis besar, karakteristik tersebut, antara lain (Maulana, 2007).

1. Gangguan Kemampuan Komunikasi

Anak penyandang autis memiliki gangguan pada cerebellum atau otak kecil dimana otak ini berfungsi dalam bidang sensorik. Sekitar 50% anak autis telah mengalami keterlambatan dalam berbahasa dan berbicara. Anak penyandang autis seringkali mengoceh secara berulang-ulang, seringkali ocehan ataupun ucapan yang diberikan tidak dimengerti oleh orang lain. Secara umum, anak penyandang autis telah mengalami gangguan komunikasi verbal maupun non verbal. Gejala yang seringkali muncul, yaitu perkembangan bahasa lambat, senang meniru, tampak seperti tuli, sulit berbicara, kadang kata yang digunakan tidak sesuai dengan artinya, mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang, bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi (Santrock, 2007).

2. Gangguan Perilaku

Anak penyandang autis biasanya mengalami gangguan pada sistem limbik dimana sistem tersebut merupakan satu set struktur otak yang berfungsi mengatur emosi, perilaku, memori jangka panjang, dan juga penciuman. Adanya gangguan pada sistem limbik akan mengakibatkan anak penyandang autis mengalami kesulitan mengendalikan emosi, mudah mengamuk, mudah marah, agresif, hingga memiliki ketakutan pada hal-hal tertentu. Anak penyandang autis menyukai rutinitas yang dilakukan tanpa berpikir dan dapat berpengaruh buruk jika dilarang dan membangkitkan kemarahan. Anak penyandang autis juga menunjukkan pola perilaku, minat, dan kegiatan yang terbatas, serta pengulangan dan steriotipik (Wardiana, 2020)

3. Gangguan Kemampuan Interaksi Sosial

Anak penyandang autis mengalami hambatan dalam berinteraksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak mau menoleh jika dipanggil, tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain, lebih senang bermain sendiri, tidak dapat merasakan empati, seringkali menolak untuk dipeluk, menjauh jika didekati untuk diajak bermain (Wardiana, 2020). Selain itu, anak autis biasanya berinteraksi dengan cara menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan (Dwi, 2008).

Dewi, dkk (2019) telah melakukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh bermain lego terhadap interaksi sosial anak penyandang autis; hasil dari penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa setelah dilakukan terapi menggunakan permainan lego, anak penyandang autis selaku subjek memiliki perubahan-perubahan ke arah positif, seperti sudah mampu melakukan kontak mata saat peneliti memanggilnya dan mereka sudah mampu bermain dengan teman-temannya juga dengan peneliti, bahkan kemampuan sosial mereka juga berkembang dengan cara mampu mengenali dirinya saat berinteraksi dengan teman serta lingkungannya.

Yanhui Pang (2010) sebelumya juga telah melakukan penelitian, berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa terapi berbasis permainan lego mampu memberikan pengaruh terhadap anak autis sehingga dirinya mampu berinteraksi dengan orang lain dalam kegiatan bermain, anak autis juga mampu berbagi dengan teman sebayanya untuk saling menggabungkan balok lego.

Salah satu mainan untuk anak autisme adalah permainan lego. Penggunaan permainan lego memang menjadi suatu permainan yang seringkali digunakan untuk terapi anak-anak. Permainan lego merupakan suatu permainan yang dimana terdapat kepingan plastik yang dapat disusun dan dirangkai menjadi berbagai bentuk (Dewi, 2019). Apabila anak bisa memainkan permainan lego, maka aspek perkembangan anak tersebut akan terpenuhi (Handayani, 2008; Dewi, 2019).

mainan untuk anak autisme

PEMBAHASAN

Manusia sebagai makhluk sosial tentu saja akan terus berinteraksi dengan lingkungannya, begitu pula dengan anak-anak. Anak-anak menjadi salah satu kelompok masyarakat yang akan melakukan interaksi sosial dengan orang tua, teman sebaya, guru, maupun orang lain. Lingkungan tempat anak-anak melakukan interaksi sosial, seperti di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitarnya. Namun tidak semua anak-anak mampu melakukan interaksi sosial dengan semestinya seperti yang dirasakan oleh anak penyandang autis.

Anak penyandang autis seringkali dianggap sebelah mata oleh orang awam, seperti dirinya yang lebih suka menyendiri; namun kenyataannya hal tersebut termasuk ke dalam gangguan interaksi sosial yang dirasakan oleh anak penyadang autis. Anak autis memiliki beberapa gangguan yang dialami, antara lain gangguan dalam bidang interaksi sosial, gangguan dalam bidang komunikasi (verbal–non verbal), gangguan dalam bidang perilaku, gangguan dalam bidang perasaan atau emosi, dan gangguan dalam bidang persepsi-sensorik (Rahayu, 2014).

a. Gangguan dalam bidang interaksi sosial

Anak penyandang autis yang mengalami gangguan ini ditunjukkan dengan tanda-tanda, sebagai berikut.

  1. Tidak adanya kontak mata dengan lawan bicara
  2. Ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan perasaan, misalnya ketika seharusnya anak mengekspresikan kesedihan namun anak menunjukkan ekspresi gembira, seperti tersenyum.
  3. Gerakan atau sikap tubuh yang tidak sesuai dengan pembicaraan yang sedang berlangsung, misalnya anak tersebut seharusnya menolak dengan menggelengkan kepala namun ia melakukannya dengan gerakan mengangguk.
  4. Mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan teman sebaya yang sesuai dengan usianya, mengalami kesulitan dalam aktivitas dan minat yang melibatkan orang lain, mengalami kesulitan dalam melakukan hubungan timbal balik dengan orang lain.
  5. Menolak untuk dipeluk, disentuh, dan digendong.
  6. Tidak mau menengok apabila dipanggil.
b. Gangguan dalam bidang komunikasi (verbal-non verbal)
  1. Mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicara, atau kemampuan bicara.
  2. Meracau dengan bahasa aneh.
  3. Bicara tetapi tidak digunakan untuk komunikasi.
  4. Echolalia/membeo/meniru.
  5. Menarik tangan orang dewasa untuk minta tolong.
c. Gangguan dalam bidang perilaku
  1. Mengalami gangguan perilaku berlebihan, hiperaktivitas motorik, misalnya tidak bisa diam, lari tidak terarah, melompat-lompat, berputar-putar, handflapping/mengibas-ngibaskan tangan, gerakan diulang-ulang.
  2. Duduk diam, termenung, tatapan mata kosong, terpaku pada benda yang berputar dan tidak beranjak. Lekat pada benda tertentu.
d. Gangguan dalam bidang perasaan atau emosi
  1. Tidak adanya atau kurang empati, misalnya melihat anak menangis maka ia tidak merasa kasihan melainkan terganggu dengan suaranya dan justru tutup telinga atau anak itu didatangi dan dipukul.
  2. Tertawa-tawa sendiri, menangis, atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
  3. Sering mengamuk atau tantrum apabila tidak mendapatkan apa yang diinginkan, bisa menjadi agresif dan destruktif atau merusak.
e. Gangguan dalam bidang persepsi-sensori
  1. Mencium-cium, menggigit, atau menjilati mainan atau benda apa saja.
  2. Bila mendengar suara keras langsung tutup telinga.
  3. Tidak suka disentuh/sangat sensitif.
  4. Merasa sangat tidak nyaman apabila memakai baju atau celana dari bahan kasar.

Gangguan berinteraksi sosial yang dirasakan oleh anak autis dapat direduksi dengan menggunakan terapi melalui suatu permainan. Hurlock (1978: 160), mengemukakan bahwa permainan (play) adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela tidak ada paksaan dan tidak ada tekanan dari luar atau kewajiban.

Docket dan Fleer berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Bermain merupakan suatu aktivitas lain, seperti belajar dan bekerja yang selalu dilakukan dalam rangka mencapai suatu hasil akhir (Yuliani Nurani Sujiono & Bambang Sujiono, 2010: 34).

Salah satu permainan yang dapat digunakan dalam terapi bermain guna mereduksi gangguan interaksi sosial pada anak autis, yaitu permainan lego. Permainan lego merupakan sejenis permainan bongkah plastik dimana kepingan lain dapat disusun untuk menjadi berbagai macam model, seperti rumah, mobil, gedung bertingkat, robot, dsb.

Permainan lego sangat popular karena seringkali dimainkan bersama antara orang tua dengan anak guna menumbuhkan kreativitas anak dengan menyatukan ide bersama. Permainan ini hampir serupa dengan permainan building block, namun permainan tersebut biasanya hanya dikhususkan untuk membuat satu bangunan, seperti rumah saja, sedangkan pada permainan lego dapat dibuat dengan berbagai macam objek (Fachresya, 2020).

Zaman mengemukakan bahwa lego mampu memberikan peluang bagi anak untuk aktif bermain, anak-anak akan lebih cepat mempelajari suatu konsep dengan keterlibatannya secara aktif, yang di implementasikan melalui aktifitas kerja tangan untuk membentuk, membuat garis lurus menyusun menjadi menara, bahkan memberikan kesempatan bagi anak untuk mengerjakan suatu pekerjaan berkelompok, sehingga anak dapat belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan kawan-kawannya (Fachresya, 2020).

Permainan lego dapat dilakukan dengan langkah-langkah, sebagai berikut (Fachresya, 2020).

  1. Pijakan lingkungan bermain
  2. Pengelolaan awal lingkungan dengan memilih bentuk lego yang akan dibangun.
  3. Guru menyiapkan perlengkapan permainan lego yang diperlukan.
  4. Menata lingkungan untuk mendukung hubungan sosial yang positif.
  5. Pijakan pengalaman sebelum bermain lego
  6. Membaca sebuah buku atau cerita yang mampu memberikan gagasan kepada anak yang berkaitan dengan kegiatan.
  7. Mendiskusikan gagasan untuk pengalaman bermain lego.
  8. Menyediakan kesempatan kepada anak untuk hubungan sosial dengan teman melalui penempatan bahan-bahan dan tempat yang cukup.
  9. Mendiskusikan aturan dan harapan untuk permainan yang akan dimainkan.
  10. Pijakan pengalaman bermain lego
  11. Guru akan memberikan instruksi bagaimana cara membuat suatu bentuk konstruksi sederhana yang akan disesuaikan dengan tema, misalnya bentuk bangunan.
  12. Memberikan setiap anak waktu yang cukup untuk beraktivitas dan berkreasi sesuai dengan imajinasi dan kreativitasnya (paling sedikit 60 menit untuk membangun hasil karyanya).
  13. Guru mengajukan pertanyaan dan diskusi tentang bangunan mereka, hal ini untuk memperkuat dan memperluas bahasa anak.
  14. Mengamati dan mendokumentasikan kemajuan perkembangan anak- anak.
  15. Pijakan pengalaman setelah bermain lego
  16. Guru mendukung anak untuk mengingat kembali pengalaman bermainnya dan saling menceritakan pengalamanya tersebut.
  17. Kemudian anak membereskan alat-alat dan bahan yang telah digunakan dalam melakukan permainan lego tersebut.

mainan untuk anak autisme

Manfaat Permainan Lego

Permainan lego memiliki berbagai macam manfaat, diantaranya (Fachresya, 2020):

1. Belajar menciptakan visi

Anak akan belajar bagaimana hasil bangunan yang dikehendaki, berapa lantai, berapa jumlah kamar atau jendela, berapa jumlah garasi, dsb. Biasanya visi dinyatakan diawal melakukan permainan agar nantikan akan menjadi pedoman dalam proses pembuatannya nanti (start from the end).

2. Belajar mengerti fondasi

Anak akan belajar langkah awal pembuatan lego sebagai pembangunan fondasi. Fondasi ini nantinya akan menentukan kekuatan bangunan yang akan dibuat.

3. Belajar mengerti alat bantu

Anak akan belajar beberapa cara untuk membuat konstruksi ataupun rangka yang kuat yang terkadang membutuhkan alat bantu sebagai penyangga untuk memperkuat konstruksi.

4. Belajar berkomunikasi dan berbagi ide

Anak akan belajar berkomunikasi dengan teman bermainnya terkait pembuatan bangunan pada lego. Apabila dilakukan bersama-sama, maka ide yang dimiliki akan tersampaikan dan dicoba bersama-sama.

5. Belajar resource allocation

Anak akan belajar bagaimana keterbatasan jumlah bricks untuk disesuaikan dengan bangunan yang telah direncanakan.

6. Belajar art

Anak akan belajar memahami dan mengerti tentang seni dan keindahan.

7. Dan yang juga penting adalah belajar bersabar

Dewi, dkk (2019) mengemukakan bahwa apabila terapi bermain lego dapat diterapkan maka interaksi sosial pada anak penyandang autis akan semakin membaik, selain itu dengan terapi bermain lego juga akan mengembangkan kemampuan motorik dan kreativitas anak.

mainan untuk anak autisme

PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa permainan lego mampu memberikan manfaat yang positif dalam mereduksi gangguan interaksi sosial pada anak penyandang autis. Dalam melakukan permainan lego, guru ataupun orang tua dapat mengajak anak untuk membagikan idenya dengan cara berkomunikasi secara bersama-sama sehingga memunculkan kegiatan interaksi sosial yang positif.

 

SARAN

Adapula beberapa saran yang dapat diberikan kepada beberapa pihak, diantaranya.

  1. Bagi Orang Tua

Peneliti berharap agar orang tua mampu berperan aktif dalam mengembangkan aktivitas interaksi sosial anak penyandang autis serta mengetahui gambaran terkait mereduksi gangguan interaksi sosial pada anak autis menggunakan permainan lego.

  1. Bagi Guru

Peneliti berharap agar guru mampu meningkatkan program pendidikan guna meningkatkan interaksi sosial pada anak penyandang autis agar mampu berinteraksi dengan orang tua, guru, teman sebaya, maupun orang lain.

  1. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti berharap agar peneliti selanjutnya mampu untuk mengembangkan studi literatur ini maupun menjadikan acuan untuk penelitian lain terkait mereduksi gangguan interaksi sosial dengan menggunakan permainan lego.

 

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Y. T. (2008). Pola interaksi sosial anak autis di sekolah khusus autis (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Barus, D. T., Anggraini, C., & Sembiring, F. (2020). Pengaruh terapi bermain lego terhadap interaksi sosial anak autis di Sdlb 017700 Kisaran Naga Kecamatan Kisaran Timur Kabupaten Asahan Tahun 2019. Jurnal Penelitian Keperawatan Medik, 2(2), 68-73.

Prasetyo, Dwi Sunar. (2008). Serba serbi anak autis. Yogyakarta: Diva press.

Fachresya, A. (2020). Mereduksi perilaku blindism dengan permainan lego untuk anak tunanetra. Jurnal Pendidikan Khusus, 15(2).

Firda Nurmala Hayati, Ahmad Samawi (2017), Permainan lego untuk meningkatkan kemampuan sosial anak autis. Jurnal Ortopedagogia, 30-35.

Hidayah, N. 2013. Kebermaknaan hidup orang tua yang memiliki anak autis (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

Kaplan & Sadock. (2010). Buku ajar psikiatri klinis (Ed. 2). Jakarta: EGC.

Maulana, Mirza. (2007). Anak autis. Yogyakarta: Kata hati.

Mashabi, N. A., Tajuddin, N. R. (2009). Hubungan antara pengetahuan ibu dengan pola  makan anak autis. Jakarta: Makara Kesehatan.

Mourice,  C.  (1996). Behavioral  intervention for children with autism: A manual for parent’s young and professionals. Texas: Autism.

Pang, Yanhui. (2010) Lego games help young with autism develop social skills. International Journal of Education, 2 (2): 1-9.

Rahmawati, S. (2012). Pengaruh metode ABA (Applied Behaviour Analysis): Kemampuan bersosialisasi terhadap kemampuan interaksi sosial anak autis di SLB TPA (Taman Pendidikan dan ASuhan Kabupaten Jember (Skripsi, Universitas Jember, Jember).

Rahayu, S. M. (2014). Deteksi dan intervensi dini pada anak autis. Jurnal pendidikan anak, 3(1).

Santrock, john W. (2007). Psikologi belajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sari, I. D. (2009). Nutrisi pada pasien autis. Jakarta: CDK (Cermin Dunia Kedokteran).

Suryati, Rahmawati (2016). Pengaruh terapi bermain lego pada interaksi sosial anak autis. Jurnal Keperawatan Batang Hari Jambi, 142-147.

Wardiana, (2020). Upaya penanganan gangguan interaksi sosial pada anak autis di rumah anak berkebutuhan khusus di Punge Banda Aceh (Skripsi. Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Darussalam).

Zed. (2008). Metode penelitian kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

Demikian artikel mengenai mainan untuk anak autisme : 7 Manfaat Permainan Lego “Manfaat Permainan Lego dalam Mereduksi Gangguan Interaksi Sosial pada Anak Autis”. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Salam sehat mental selalu.

 

Editor artikel: Tim sehatmental.net

Leave A Reply

Your email address will not be published.