5 Manfaat Bermain Sambil Belajar Pada Anak

Bermain bagi anak memiliki banyak dampak positif. Dalam artikel ini, sehatmental.net  akan membahas pengaruh bermain terhadap kreativitas anak, terutama bermain sambil belajar ataupun sebaliknya, belajar sambil bermain.

 

Pengaruh Bermain Sambil Belajar Terhadap

Kreativitas Anak

(The Effect of Play on Children’s Creativity While Learning)

Muhammad Taufik Fitriyadi

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Esa Unggul

Abstrak

Dalam mengajar dibutuhkan metode yang tidak membuat bosan si anak. Salah satu metode tersebut yaitu bermain sambil belajar. Bermain merupakan kegiatan aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, mora, dan emosional. Anak-anak belajar banyak hal melalui permainan. sehingga orang tua atau guru dapat menggunakannya sebagai metode pembelajaran. Orang tua atau guru bisa mengajak anak bermain dengan menyebutkan nama benda atau nama perasaan, atau bisa juga dengan bermain peran. 

Kata kunci : Bermain saat belajar, dampak bermain, kreativitas anak

 

Abstract

In teaching, a method is needed that does not bore the child. One of these methods is playing while learning. Play is an activity that helps children achieve complete development, both physically, intellectually, socially, morally, and emotionally. Children learn many things through games. so that parents or teachers can use it as a learning method. Parents or teachers can invite children to play by naming objects or feelings, or it can also be done by role playing.Keywords: Playing while learning, the impact of playing, children’s creativity

bermain sambil belajar

Pendahuluan

Lingkungan sekolah merupakan lingkungan dimana anak-anak berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Anak-anak belajar untuk berinteraksi dengan teman sebaya salah satunya dengan cara bermain bersama. Selain cara pembelajaran yang menuntut siswa untuk berpikir konvergen yang berakibat pada lemahnya kemampuan kreatif, anak prasekolah juga mengalami periode kritis. Ariety (Akbar-Hawadi, 2001) melaporkan beberapa periode kritis perkembangan kreativitas salah satunya muncul pada usia 5-6 tahun. karena anak usia 5-6 tahun memang sangat aktif dalam bergerak dan memerlukan berbagai stimulasi positif. Hal itu sesuai dengan teori Maria Montessori yang menekankan bahwa usia lahir sampai enam tahun merupakan masa peka, di mana dalam masa peka tersebut merupakan masa yang sangat baik dalam mengembangkan setiap potensi perkembangan yang dimiliki oleh anak, sehingga diperlukan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Tujuan pendidikan pada umumnya adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuan secara optimal.Pengembangan kemampuan tersebut membutuhkan kondisi serta stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak mereka tercapai sesuai bahkan melebihi usianya.

Menurut Santrock (2002), pola perkembangan manusia dihasilkan oleh hubungan dari beberapa proses yaitu biologis, kognitif dan sosioemosional. Proses biologis (biological processe) meliputi pada sifat fisik individu yang meliputi dari perubahan pada keterampilan motorik, pertambahan tinggi dan berat badan, perubahan hormon pubertas serta semuanya yang mencerminkan proses biologis. Proses kognitif (cognitive processes) meliputi perubahan pada pemikiran, intelegensi dan bahasa individu. Dan proses sosioemosional (socioemotional processes) meliputi perubahan pada relasi individu dengan orang lain, perubahan pada emosi, dan perubahan pada kepribadian.

Rachmawati Yeni dkk (2010) mengemukakan bahwa dunia bermain adalah dunia anak. Melalui bermain anak dapat mempelajari banyak hal, tanpa ia sadari dan tanpa merasa terbebani. Melalui bermain anak dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerjasama, mengalah, sportif dan sikap positif lainnya. Perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik, yaitu berangsur-angsur dikembangkan dan bermain sambil belajar (unsur bermain lebih besar) menjadi belajar sambil bermain (unsur belajar lebih banyak). Dengan demikian, anak didik tidak akan canggung lagi menghadapi pembelajaran di tingkat-tingkat berikutnya. Oleh karena itu, dalam memberikan kegiatan belajar pada anak didik harus diperhatikan kematangan atau tahap perkembangan anak didik, alat bermain atau alat bantu, metode yang digunakan dan tempat serta teman bermain.

Berdasarkan hasil penelitian dari Karina Indriyasari (2018) dapat disimpulkan bahwa penelitian tersebut menggunakan 16 responden siswa kelas A-1 di TK Aisyiyah Busthanul Athfal I Kudus, dimana hasil akhirnya menunjukan adanya peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 65,49% pada observasi awal dan meningkat sebesar 76,00% pada observasi akhir tentang pengaruh bermain terhadap kreativitas anak saat belajar.

Metode

Berhubung artikel ini menggunakan studi literatur yang dimana menganalisa beberapa sumber atau kajian yang berkaitan dengan topik dan judul. Tetapi dari beberapa sumber atau kajian menggunakan metode yang sama yaitu, penelitian eksperimen, menggunakan pendekatan kuantitatif, dan pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dalam topik pengaruh bermain terhadap kreativitas anak saat belajar.

Pembahasan & Temuan

James J. Gallagher (dalam Choiriyah: 2011) mengatakan bahwa “Creativity is a mental process by which an individual creates new ideas or products, or combines existing ideas and product, in fashion that is novel to him or her” (kreativitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan ataupun produk baru, atau mengombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya).Supriadi (dalam Choiriyah: 2011) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, bias berupa gagasan maupun karya nyata yang relative berbeda dengan apa yang telah ada. Dapat ditambahkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir.Berdasarkan definisi diatas, maka dapat disimpulkan pengertian kreativitas adalah menciptakan suatu karya yang baru, yang alami dan merupakan hasil pemikiran seseorang yang bisa bermanfaat bagi kehidupan diri sendiri dan kehidupan orang lain.

Menurut Sujiono (2010:13), kreativitas pada setiap anak perlu dikenali, dipupuk, dan dikembangkan melalui stimulasi yang tepat agar kreativitas anak dapat terwujud. Potensi kreatif yang terdapat dalam diri setiap individu dapat diobservasi saat anak melakukan kegiatan bermain, karena bermain adalah dunia anak dan umumnya terjadi secara alamiah. Melalui kegiatan bermain, anak mampu mengembangkan potensi yang tersembunyi di dalam dirinya secara aman, nyaman, dan menyenangkan.

bermain sambil belajar

Pengaruh dan Manfat Bermain Sambil Belajar

Pengaruh dan manfaat bermain sambil belajar bagi tumbuh kembang anak antara lain :

  •  Perkembangan kognitif

Dalam bermain bebas anak dapat mengembangkan kreativitasnya dan mencoba berbagai alternatif solusi untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam permainan. Dengan demikian, mereka meningkatkan kemampuan perencanaan, berpikir logis, memahami hubungan sebab-akibat, dan pemecahan masalah yang merupakan keterampilan penting dalam kehidupan nyata.

  • Perkembangan Fisik

Dengan metode bermain sambil belajar, anak dilatih untuk merasa lebih percaya diri, stabil, mampu mengkoordinasikan gerakan yang merupakan modal dasar contohnya dalam kegiatan olah raga, duduk dikelas, menulis, dan sebagainya.

  • Perkembangan Sosial dan Emosional

Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam berinteraksi seperti menunggu giliran, mengungkapkan perasaan dan keinginan secara adaptif, berkomunikasi, dan mematuhi aturan-aturan sosial serta mengatur emosi dan mengendalikan diri.

Melalui bermain, seorang anak dapat mempelajari banyak hal, yang tidak selalu mereka peroleh di institusi pendidikan formal. Mereka belajar tentang arti bekerja sama, sportivitas, menyenangkannya sebuah kemenangan maupun kesedihan ketika mengalami kekalahan.

  • Bermain Meningkatkan Kreativitas

Bermain dan kreativitas saling berkaitan karena baik bermain maupun kreativitas mengandalkan kemampuan anak menggunakan simbol-simbol. Kreativitas dipandang sebagai sebuah aspek pemecahan masalah dari akar dasar dalam bermain. Di saat anak menggunakan daya khayalnya, entah itu dengan alat maupun tidak, kreativitas mereka lebih menonjol.

  • Bermain Mengasah Kemampuan Panca Indra

Banyak metode pembelajaran di taman kanak-kanak yang bisa mengasah panca indera secara optimal, sehingga perkembangan kepekaan panca indera akan berkembang secara baik. Seperti permainan “kotak aroma” untuk latihan indra pencium, permaian “suara apa” untuk latihan indra pendengar, gambar-gambar di buku untuk latihan indra penglihatan, nyanyian “apa rasanya” dan permaninan merasakan berbagai rasa makanan dengan mata tertutup untuk melatih indra pengecapan, dll.

Bentuk-bentuk permainan anak

Ada tiga bentuk permainan, yang pertama adalah eksploratif, kedua konstruktif, dan ketiga adalah bermain pura-pura. Eksploratif adalah permainan dengan cara mengerak-gerakan suatu benda dengan tujuan tertentu. Permainan konstruktif adalah permainan yang menggunakan suatu benda dan menyusunnya menjadi suatu barang tertentu seperti rumah-rumahan, menara, gedung, dan sebagainya. Permainan pura-pura adalah permainan dengan cara menirukan gaya orang lain atau memerankan peran orang lain. Bermain pura-pura ini sangat bermanfaat bagi anak yaitu mengatasi suatu konflik dan kecemasan yang berasal dari teori psikoanalitik. Selain itu dari pendapat para pakar bahwa ada beberapa bentuk permainan anak yaitu :

Bermain sosial

Bermain sosial terdiri atas:

  • Bermain seorang diri

Dalam permainan ini, anak bermain mandiri tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya atau apa yang dilakukan anak lain di dekatnya. Contoh permainan ini menyusun balok menjadi sebuah menara atau permainan bongkar pasang.

  • Bermain sebagai penonton

Posisi anak sedang bermain secara mandiri namun melihat pergerakan permainan yang dilakukan anak lain yang berada pada tempat yang sama. Mungkin setelah melihat permainan temannya, anak melakukan permainan itu sendiri. Anak yang bermain sebagai penonton sudah pasti dia dalam posisi pasif sedangkan anak yang lain aktif bermain, namun tetap memperhatikan dengan seksama terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

  • Bermain paralel

Suatu permainan yang dilakukan oleh beberapa anak dengan menggunakan alat permainan yang sama, namun anak-anak bermain secara mandiri, sehingga apa yang dilakukan tidak ada saling ketergantungan atau tidak tergantung antara satu sama lain.

  • Bermain asosiatif

Permainan ini adalah dimana anak bermain bersama tetapi tidak ada suatu pengaturan. Contoh permainan petak umpet, satu anak menghitung disebut dengan penjaga hingga sekian sesuai kesepakatan dan yang lainnya berlari untuk sembunyi kemudian setelah hitungan selesai penjaga mencari teman yang lain untuk yang pertama kali tertangkap menjadi penjaga berikutnya.

  • Bermain kooperatif

Dalam permainan ini, anak memiliki peran masing-masing sehingga tujuan permainan bisa tercapai. Misalnya anak bermain dokter-dokteran, ada dokter, perawat, pasien, dan keluarga pasien. Jika salah satu tidak mau untuk berperan pada salah satu tokoh kemungkinan besar permainan ini batal dilakukan.

  • Bermain dengan benda

Ada tiga bentuk bermain dengan benda. Yang pertama adalah bermain praktis, kedua bermain simbolik, dan yang ketiga adalah bermain dengan peraturan.

  • Bermain praktis adalah bermain yang dilakukan oleh anaknya langsung, yaitu anak bermain dengan cara memainkan suatu benda.
  • Bermian simbolik adalah bermain dimana anak menggunakan imajinasinya dalam suatu permainan.
  • Bermain dengan perturan adalah bermain dengan cara menggunakan aturan-aturan yang harus dipatuhi.

Bermain Sosio-Dramatik

Ada beberapa elemen dalam permainan Sosio-dramatik, yaitu:

  • Bermain peran

Bermain peran adalah menirukan kegiatan atau percakapan antara guru dengan murid.

  • Persisten

kegiatan bermain selama minimal sepuluh menit dengan tekun dan seksama.

  • Interaksi

Adegan yang dilakukan minimal dua anak.

  • Komunikasi verbal

Setiap kegiatan bermain ada komunikasi verbal di antara anak

  • Imitasi

Anak pura-pura melakukan peran orang di sekitarnya baik pembicaraan ataupun tingkah laku.

  • Pura-pura sebagai suatu objek

Anak melakukan sesuatu layaknya objek tersebut baik gerakan maupun suaranya, misalnya anak pura-pura sebagai sepeda motor, anak berlari melenggang layaknya sepeda motor yang sedang melaju.

Bermain sosio-dramatik sangat membantu dalam perkembangan kreativitas, intelektual, serta keterampilan sosial anak. Tetapi harus dipahami tidak semua anak mengalami bermain sosio-dramatik. Maka dari itu, para guru harus memberikan pengalaman bermain sosio-dramatik.

Kesimpulan

Bermain sambil belajar adalah kegiatan yang dilakukan orang seorang anak di usia dini yang dilakukan dengan perasaan senang, tanpa paksaan, namun memiliki pola-pola yang diharapkan mampu menciptakan hasil guna perkembangan baik bagi diri anak. Bermain juga merupakan sarana bagi anak guna menyalurkan energinya yang besar dan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya belum diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. Dan hal ini tentu berbeda dengan belajar yang dipahami orang dewasa dengan segala aturan dan tuntutan di akhirnya. Bermain (sambil belajar) pada anak usia dini mempunyai tujuan yang mungkin tidak disadari oleh orang dewasa, dimana saat anak bermain, sebenarnya ia sedang mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya guna menjadi modal awal yang kokoh bagi dirinya di masa depan saat menghadapi permasalahan dalam hidup, seperti perkembangan kognitif, perkembangan fisik, perkembangan sosial dan emosional, perkembangan kreativitas, dan juga perkembangan dari panca indra.

Lalu berdasarkan hasil dari beberapa sumber atau kajian yang berkaitan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kreativitas anak, ketika diberikan pembelajaran sambil bermain.

 

Daftar Pustaka

Skripsi :

Indriyasari, Karina. (2018). Pengaruh penggunaan permainan balok terhadap kreativitas anak di TK Aisyiyah Bustanul Athfal I Kabupaten Kudus Tahun Pelajaran 2015/2016. (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).

 

Jurnal

Ningsih, Aprilianti., Saparahayuningsih, Sri., & Wembrayarli. (2017). Pengaruh bermain kreatif terhadap perkembangan emosi anak kelompok B PAUD Sinar Harapan Desa Air Rusa, Curup. Jurnal Ilmiah Potensia, 2(2), 117-120.

Hasibuan, Rachma., Ningrum, M.A. (2016). Pengaruh bermain outdoor kegiatan finger painting terhadap kreativitas anak usia dini. Jurnal Pendidikan, 1(1), 72-80.

 

Sumber lain :

Link

Demikian artikel “Manfaat Bermain Sambil Belajar pada Anak”. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.