17 Manfaat Permainan Puzzle Bagi Perkembangan Anak Usia Dini

Permainan puzzle ternyata memiliki banyak manfaat. Pada artikel sehatmental.net kali ini akan dibahas mengenai 17 manfaat permainan puzzle, khususnya pada anak usia dini.

“PENGARUH PERMAINAN PUZZLE TERHADAP  PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI”

Muchammad Fadhil

Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Esa Unggul

permainan puzzle

Abstrak

Pendidikan anak pada usia dini adalah salah satu bentuk pendidikan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak sejak dini. Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini ini bertujuan guna memberikan anak stimulasi pada pertumbuhan dan perkembangannya agar anak menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, sehat jasmani, percaya diri, terampil, pemberani dan mandiri.

Permainan puzzle terbukti sebagai salah satu alat permainan edukatif dinilai anak memberikan dampak positif dalam  meningkatkan kemandirian anak usia dini, dengan permainan ini anak akan dilatih anak untuk mengembangkan logika berfikir dan cepat tanggap akan sesuatu sehingga lebih mudah baginya untuk mencari pemecahan masalah tanpa harus menggantungkan orang lain, disisi lain dapat meningkatkan kemampuan komunikasi anak, meningkatkan rasa percaya diri anak, melatih keterampilan anak, mengembangkan sosialisasi.

Kata Kunci: Pendidikan Anak Usia Dini, Permainan Puzzle, Kemandirian

LATAR BELAKANG

Anak usia dini adalah seorang individu yang masih berada dalam rentang usia 0-6 tahun, dimana individu tersebut sedang menjalani proses perkembangan menjadi individu yang lebih dewasa. Pada masa ini  proses tumbuh kembang anak dapat dikatakan sebuah siklus proses perkembangan yang cepat dalam rentang hidup manusia. Dimana pada rentang waktu ini terbentuklah suatu proses mulai dari arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta beragama), bahasa dan komunikasi bahkan kemampuan-kemampuan lainnya yang kemudian dijadikan bekal pada saat anak telah tumbuh dewasa dalam rentang umur diatas 10 tahun.

Pendidikan anak pada usia dini telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia, dimana pada peraturan tersebut telah menyebutkan bahwa anak usia dini setidaknya memiliki enam aspek perkembangan. Keenam aspek tersbut adalah nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Penyelenggaraan Pendidikan anak usia dini ini bertujuan guna memberikan anak stimulasi pada pertumbuhan dan perkembangannya agar anak menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, sehat jasmani, percaya diri, terampil, pemberani dan mandiri.

Pendidikan anak pada usia dini dapat dimulai dari lingkungan terdekat anak seperti keluarga. Peran orang tua sangat memegang pengaruh penting dalam tumbuh kembang anak. Anak usia dini akan cenderung lebih condong melihat dan meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Anak akan menganggap apa yang ia lihat sebagai contoh dan akan menirukan kegiatan tersebut. Jadi disinilah peran orangtua untuk membentuk karakter awal seorang anak sangatlah penting sebelum kemudian mendapat pedidikan dari sekolah formal.

Kemandirian merupakan salah satu aspek terpenting yang harus dimiliki setiap individu, karena dapat mempengaruhi kinerjanya, juga berfungsi untuk membantu mencapai tujuan hidupnya, prestasi, kesuksesan serta memperoleh penghargaan. Tanpa didukung oleh sifat mandiri, maka seorang individu akan sulit untuk mencapai sesuatu secara maksimal dan akan sulit pula baginya untuk meraih kesuksesan. Marintis berpendapat bahwa kemandirian merupakan kemampuan hidup yang utama dan salah satu kebutuhan sejak awal usianya. Membentuk anak usia dini sebagai pribadi yang mandiri memerlukan proses yang dilakukan secara bertahap. Semua usaha untuk membuat anak usia dini menjadi mandiri sangatlah penting agar anak dapat mencapai tahapan kematangan sesuai dengan usianya.[1]

Dalam memperoleh kemandirian baik secara sosial, emosi maupun intelektual, anak harus diberikan kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Anak yang mandiri biasanya cenderung mampu mengatasi masalah persoalan yang dihadapinya. Maka dari itu melatih kemandirian sejak dini merupakan suatu hal yang sangat penting. Kemandirian anak sebagai individu sangat erat kaitannya dengan konsep diri, penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem) dan kemampuan untuk mengatur diri sendiri (self regulation).  Perkembangan kemandirian anak usia dini dapat dideskripsikan dalam bentuk perilaku dan pembiasaan anak.

Metode yang menyenangkan merupakan salah satu alternatif untuk mengembangkan keterampilan anak termsuk juga kemandirian anak. Metode yang meyenangkan ini sering kali diimplementasikan dengan metode bermain. Salah satu cara metode bermain yang dapat dijadikan sarana untuk membentuk kepribadian anak yang mandiri adalah dengan menggunakan alat permainan edukatif. Menurut M. Fadillah alat permainan edukatif adalah setiap permainan yang didalamnya terkandung nilai-nilai pendidikan bagi perkembangan dan pertumbuhan anak.[2]

Puzzle termasuk kedalam salah satu alat permainan edukatif, puzzle sendiri merupakan salah satu alat permainan yang dimainkan dengan cara menyusun potongan-potongan gambar agar menjadi satu bentuk gambar yang utuh. Alat permainan edukatif puzzle adalah alat permainan yang dapat melatih anak mengenal bentuk, dan mengenal ruang kosong di aman potongan tersebut dibutuhkan. Puzzle juga membantu anak mengenal persamaan, seperti warna atau garis tebal dalam suatu potongan sesuai dengan corak dalam potongan lain. Melalui bermain puzzle anak dapat belajar suatu benda atau objek tersusun dari bagian-bagian kecil. Permainan ini merangsang anak menyatukan unsur-unsur yang berbeda.[3]

Berdasarkan hal tersebut diatas, penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk menganalisis PENGARUH PERMAINAN PUZZLE TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI.

permainan puzzleMETODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode studi literature. Studi literature yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melakukan penelusuran dan menelaah bahan pustaka, buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, hasil penelitian, majalah ilmiah, jurnal ilmiah, laporan-laporan yang ada kaitannya dengan topik penelitian. Menurut Creswell studi literatur adalah ringkasan tertulis mengenai artikel dari jurnal, buku dan dokumen lain yang mendeskripsikan teori serta informasi baik masa lalu maupun saat ini mengorganisasikan pustaka ke dalam topik dan dokumen yang dibutuhkan.[4]

HASIL PENELITIAN

Salah satu aspek perkembangan anak pada usia dini adalah dengan adanya perkembangan fisik motorik. Menurut Wijaya perkembangan motorik sangat berkaitan erat dengan kegiatan fisik.[5] Hurlock juga mengatakan bahwa aspek motorik adalah perkembangan dalam pengendalian tubuh yang dilakukan syaraf-syaraf yang saling terkoordinasi. Atas pendapat hurlock dalam (Khadijah,2020) juga menambahkan bahwa motorik ialah suatu gerak tubuh dimana otak menjadi pusat kontrol dalam pengendalian gerak. Perkembangan motorik terbagi menjadi dua, motorik kasar dan motorik halus.[6]

Motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Sedangkan motorik kasar adalah gerak anggota badan secara kasar atau keras dengan melibatkan seluruh anggota badan seperti melompat, berlari dan lain-lain. Peningkatan kemandirian pada anak merupakan suatu kegiatan yang memerlukan gerakan halus oleh bagian anggota tubuh tertentu, diiringi dengan logika yang kemudian memunculkan inisiatif atas pemecahan masalah yang sedang di hadapi.

Penelitian terdahulu telah banyak yang membahas mengenai pengaruh permainan puzzle sebagai alat permainan edukatif sebagai sarana tumbuh kembang anak pada usia dini, pada penelitian ini penulis mengambil 3 sampel yang relevan sesuai dengan topik yang dibahas oleh penulis, antara lain sebagai berikut:

  • Penelitian yang dilakukan oleh Tunggul Sri Agus Setyaningsih dan Hesti Wahyuni yang berjudul Stimulasi Permainan Puzzle Berpengaruh Terhadap Perkembangan Sosial Dan Kemandirian Anak Usia Prasekolah, penelitian difokuskan untuk mengetahui pemberian stimulasi permainan puzzle terhadap perkembangan sosial dan kemandirian pada anak usia prasekolah di TK Aisyiyah Petanahan.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain Quasi Eksperimental One Group Pre Test-Post Test, sample yang diambil pada penelitian ini adalah anak berusia 5 tahun dengan status perkembangan meragukan pada aspek sosialisasi dan kemandirian yang berjumlah 17 orang dengan teknik purposive sampling. Dari penelitian yang dilakukan diambil kesimpulan bahwa perkembangan sosial dan kemandirian anak sebelum dan setelah dilakukan intervansi berupa pemberian stimulasi permainan puzzle menunjukkan hasil peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa permainan puzzle dapat membantu anak yang mulanya kurang dalam interaksi sosial dan kemandirian, menjadikan anak lebih baik dalam bersosialisasi, menjadi anak yang lebih mandiri, dan juga meningkatkan kemampuan logis berupa menyusun potongan yang terpisah.[7]

  • Penelitian yang dilakukan oleh Abner Pahanael yang berjudul Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Puzzle Stick Bar Tiga Dimensi Di TK B2 Kristen 1 Satya Wacana, penelitian dilakukan oleh penulis karena penulis melihat bahwa anak-anak usia dini di lingkungan tersebut sangatlah minim kreativitas karena terbatasnya kesempatan yang diberikan kepada anak. Melalui penelitian ini penulis mencoba cara untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus membangun sifat mandiri pada anak dengan memanfaatkan permainan Puzzle Stick Bar Tiga Dimensi.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindakan kelas. Penelitian dengan menggunakan tindakan kelas adalah penelitian yang memaparkan terjadinya sebab-akibat perlakuan, dan juga pelaporan terhadap proses sejak awal sampai dengan dampak dari perlakuan tersebut. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa penggunaan alat permainan Puzzle Stick Bar Tiga Dimensi dapat memberikan pengaruh pada anak mengenai kreativitas mulai dari awal percobaan dan terus mengalami peningkatan dari hari ke hari. Permainan ini membantu anak untuk menyelesaikan masalah dan berfikir kreatif sehingga berdampak pada kehidupan sehari-hari yaitu ditunjukkan dengan aktivitas tidak menggantungkan diri pada orang lain.[8]

  • Penelitian yang dilakukan oleh Junita Andriani dan Zahratul Qolbi yang berjudul Pengaruh Penggunaan APE (Alat Permainan Edukatif) Puzzle Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia dini, penelitian ini difokuskan untuk menganalisis pengaruh penggunaan APE puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia dini.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur dimana teknik pengumpulan datanya adalah dokumentasi, kemudian data tersebut dianalisis dengan proses memilih, membandingkan, menggabungkan dan memilah berbagai pengertian hingga ditemukan yang relevan. Setelah dilakukan penelitian dan pemabahsan maka diperoleh jawaban bahwa dengan menggunakan puzzle saat bermain dapat meningkatkan perkembangan motorik halus anak, anak menggunakan dan menggerakkan jari-jemari tangan dan pergelangan tangan saat menyusun potongan gambar puzzle. Selain itu, penggunaan puzzle juga dapat meningkatkan koordinasi mata dan tangan saat anak mencocok-cocokan gambar, meningkatkan keterampilan dan daya ingat anak, melatih ketelitian dan konsentrasi anak, serta meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan mengelola emosi.[9]

 

PEMBAHASAN

Menurut Sujiono bermain merupakan kegiatan yang mempunyai nilai praktis, artinya bermain digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak terutama anak pada usia dini. [10] Bermain sejatinya memiliki karakteristik yang aktif dan menyenangkan. Kegiatan bermain dapat dilakukan spontan tanpa menggunakan alat permainan, namun ada juga yang menggunakan alat permainan. Puzzle merupakan salah satu bentuk alat permainan yang tergolong sebagai alat permainan edukatif.

Pengertian alat permainan edukatif menurut Astini adalah segala bentuk permainan yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar kepada pemainnya entah itu permainan tradisional ataupun permainan modern yang didalamnya disisipi muatan pendidikan dan pengajaran. Alat permainan edukatif biasanya sengaja dirancang untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, serta sebagai alat untuk mendorong aktivitas anak mempelajari sesuatu tanpa anak sadari. Alat permainan edukatif biasanya dirancang multiguna sehingga dapat melatih motorik halus anak, mengenal konsep warna, bentuk dan ukuran.[11]

Permainan puzzle sendiri terdiri dari berbagai macam diantaranya adalah puzzle kontruksi bangunan, puzzle batang stick, puzzle lantai, puzzle transportasi, puzzle geometri. Macam-macam jenis puzzle tersebut memiliki kelebihannya masing-masing, tergantung orang tua atau orang dewasa ingin memfokuskan anak pada kemampuan yang mana. Terlepas dari caranya yang berbeda permainan puzzle sendiri tetap memiliki tujuan yang sama pada akhirnya yaitu sebagai sarana pembelajaran. Selaras dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu sebagaimana telah dijabarkan diatas, semua kesimpulan atas hasil penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan permainan puzzle memiliki manfaat, yaitu:

  • Meningkatkan kemandirian

Permainan puzzle terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kemandirian pada anak usia dini. Yang mana pada setiap penelitian menjabarkan kepribadian dan tipe anak sebelum dikenalkan dan diajarkan permainan puzzle hingga sesudah anak mengenal permainan puzzle. Semuanya menunjukkan hasil peningkatan, dan perubahan pada sikap anak.

  • Meningkatkan kepribadian anak

  • Meningkatkan kemampuan komunikasi anak

  • Meningkatkan kemampuan anak menciptakan sesuatu yang baru

  • Mempertajam perasaan anak

  • Meningkatkan rasa percaya diri anak

  • Melatih kemampuan berbahasa

  • Melatih motorik halus dan motorik kasar anak

  • Membentuk moralitas anak

  • Melatih keterampilan anak

  • Mengembangkan sosialisasi

  • Membentuk spiritual anak, serta

  • Melatih anak untuk mengembangkan logika berfikir dan cepat tanggap akan sesuatu sehingga lebih mudah baginya untuk mencari pemecahan masalah tanpa harus menggantungkan orang lain.

  • Menghibur dirinya dan mendapatkan kesenangan,

  • Anak dapat beralih dari kondisi Helpness (tidak berdaya) menjadi pribadi yang lebih periang dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi

  • Anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dengan cepat

  • Di sisi lain, permainan puzzle juga mengajari anak sikap tidak mudah menyerah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian penulis sebagaimana telah diuraikan diatas, maka penulis membuat kesimpulan bahwa pendidikan untuk anak usia dini sangatlah penting guna mengoptimalkan perkembangan anak dan membentuk anak sebagai pribadi sebagaimana yang diharapkan ketika sudah dewasa nanti.

Permainan puzzle terbukti sebagai salah satu alat permainan edukatif dinilai anak memberikan dampak positif dalam  meningkatkan kemandirian anak usia dini, dengan permainan ini anak akan dilatih anak untuk mengembangkan logika berfikir dan cepat tanggap akan sesuatu sehingga lebih mudah baginya untuk mencari pemecahan masalah tanpa harus menggantungkan orang lain, disisi lain dapat meningkatkan kemampuan komunikasi anak, meningkatkan rasa percaya diri anak, melatih keterampilan anak, mengembangkan sosialisasi.

Metode pembelajaran dengan menggunakan puzzle sangatlah disarankan kepada orang tua ataupun orang dewasa lainnya sebagai salah satu media mendidik kemandirian anak sejak dini. Anak yang telah dibiasakan untuk hidup madiri, maka ketika dewasa nanti akan lebih mudah untuk menentukan arah hidupnya sendiri dan tidak pernah menggantungkan orang lain dalam berbagai hal.

DAFTAR PUSTAKA

Astini, B. N., Rachmayani, I., & Suarta, I. N. 2017. Identifikasi Pemafaatan Alat Permaian Edukatif (APE) Dalam Mengembangka Motorik Halus Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 6.

Fadillah, M. 2017. Bermain Dan Permainan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana.

Habsy, B. A. 2017. Seni memahami penelitian kualitatif dalam bimbingan dan konseling: Studi literatur. Jurnal Konseling Andi Matappa, 1.

Hayati, Nur & Ni Nyoman Seriati. 2015. Permainan Tradisional Jawa Gerak dan Lagu Untuk Menstimulasi Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Seni Tari PGPAUD.

Khadijah, M. A. 2020. Perkembangan Fisik Motorik Anak Usia Dini: Teori dan Praktik. Jakarta: Prenada Media.

Pahanael, Abner. 2020. Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Puzzle Stick Bar Tiga Dimensi Di TK B2 Kristen 1 Satya Wacana. Jurnal Ilmiah Potensia, 2020 Vol. 5.

Qalbi, Zahratul & Junita Andriani. 2021. Pengaruh Penggunaan Ape Puzzle Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini: Studi Literatur. Jurnal RECEP: Vol. 1, No. 2, Mei 2021.

Rantina, Mahyumi. 2015. Peningkatan Kemandirian Melalui Kegiatan Pembelajaran Practical Life (Penelitian Tindakan Di TK B Negeri Pembina Kabupaten Lima Puluh Kota,Tahun 2015). Jurnal Pendidikan Usia Dini Volume 9 Edisi 2, November 2015.

Rini, N. S. 2009. Hubungan Pengetahuan lbu Tentang Perkembangan Anak Dengan Perkembangan Motorik Kasar Dan Motorik Halus Anak Usia 4-5 Tahun Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Semarang, Jurnal FIKKES Semarang.

Wahyuni, Hesti & Tunggul Sri Agus Setyaningsih. 2018.  Stimulasi Permainan Puzzle Berpengaruh Terhadap Perkembangan Sosial Dan Kemandirian Anak Usia Prasekolah. Jurnal Keperawatan Silampari  Volume 1, Nomor 2, Juni 2018.

[1] Mahyumi Rantina. 2015. Peningkatan Kemandirian Melalui Kegiatan Pembelajaran Practical Life (Penelitian Tindakan Di TK B Negeri Pembina Kabupaten Lima Puluh Kota,Tahun 2015). Jurnal Pendidikan Usia Dini Volume 9 Edisi 2, November 2015, hal 182.

[2] Fadillah, M. 2017. Bermain Dan Permainan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana, hal 27.

[3] Junita Andriani & Zahratul Qalbi. 2021. Pengaruh Penggunaan Ape Puzzle Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini: Studi Literatur. Jurnal RECEP: Vol. 1, No. 2, Mei 2021, hal 100-107.

[4] Habsy, B. A. 2017. Seni memahami penelitian kualitatif dalam bimbingan dan konseling: Studi literatur. Jurnal Konseling Andi Matappa, 1(2), hal  90.

[5] Rini, N. S. 2009. Hubungan Pengetahuan lbu Tentang Perkembangan Anak Dengan Perkembangan Motorik Kasar Dan Motorik Halus Anak Usia 4-5 Tahun Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Semarang, Jurnal FIKKES Semarang, hal 2.

[6] Khadijah, M. A. 2020. Perkembangan Fisik Motorik Anak Usia Dini: Teori dan Praktik. Jakarta: Prenada Media, hal 10.

[7] Tunggul Sri Agus Setyaningsih & Hesti Wahyuni. 2018.  Stimulasi Permainan Puzzle Berpengaruh Terhadap Perkembangan Sosial Dan Kemandirian Anak Usia Prasekolah. Jurnal Keperawatan Silampari  Volume 1, Nomor 2, Juni 2018.

[8] Abner Pahanael. 2020. Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Puzzle Stick Bar Tiga Dimensi Di TK B2 Kristen 1 Satya Wacana. Jurnal Ilmiah Potensia, 2020 Vol. 5(2) 145-152.

[9] Junita Andriani & Zahratul Qalbi. Op. cit, hal 105.

[10] Ni Nyoman Seriati & Nur Hayati. 2015. Permainan Tradisional Jawa Gerak dan Lagu Untuk Menstimulasi Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Seni Tari PGPAUD, hal 3.

[11][11] Astini, B. N., Rachmayani, I., & Suarta, I. N. 2017. Identifikasi Pemafaatan Alat Permaian Edukatif (APE) Dalam Mengembangka Motorik Halus Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 6(1), hal 34.

Demikian artikel mengenai “17 Manfaat Permainan Puzzle Bagi Perkembangan Anak Usia Dini”. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.