Wow, Simak 4 Manfaat Permainan Tradisional

MANFAAT PERMAINAN TRADISIONAL DALAM

MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL

ANAK USIA DINI

 

Renee Basania Zaneta Hutagalung

Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Esa Unggul

manfaat permainan tradisional

Abstrak

Sejak usia dini, individu mendapatkan pendidikan dimana dalam pelaksaannya menitikberatkan pada pembentukan dasar beberapa arah, seperti pertumbuhan dan perkembangan fisik motorik, kecerdasan, pembentukan karakter, nilai norma dan agama, pengembangan bahasa, kognitif, seni, sosial dan emosional. Metode atau cara yang digunakan dalam memberikan pendidikan pada anak usia dini harus disesuaikan dengan melihat perkembangan anak, dan bersifat menyenangkan sehingga anak lebih mudah menyerap apa yang disampaikan.

Permainan tradisional merupakan salah satu metode yang sangat cocok dalam pengembangan keterampilan sosial anak. Permainan tradisional secara tidak langsung bermanfaat besar bagi tumbuh kembang anak, sebagai sarana untuk memberikan pengalaman, bersosialisasi, berinteraksi, bekerja sama, saling mendukung, saling percaya, saling menolong, dan mengembangkan kepercayaan diri anak.

Kata Kunci : Pendidikan anak, Keterampilan Sosial, Permainan Tradisional

 

LATAR BELAKANG

Sejak usia dini, individu mendapatkan pendidikan dimana dalam pelaksaannya menitikberatkan pada pembentukan dasar beberapa arah, seperti pertumbuhan dan perkembangan fisik motorik, kecerdasan, pembentukan karakter, nilai norma dan agama, pengembangan bahasa, kognitif, seni, sosial dan emosional. Sejak dini seorang anak harus dibekali dengan kemampuan untuk berani dan mampu menghadapi perbedaan dalam kehidupan sosial. Modal anak untuk mengatasi perbedaan ini adalah keterampilan sosial yang dijadikan modal dasar untuk berinteraksi. Pendidikan dini terhadap anak sejatinya sangatlah penting, karena hal ini yang nantinya akan membentuk pribadi seorang anak ketika dewasa dan harapanya dapat menjadi seorang indvidu yang sukses dalam berbagai bidang.

Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan seorang indvidu ketika dewasa dipengaruhi oleh aspek kognitif sebanyak 20% sedangkan 80% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain termasuk di dalamnya aspek sosial dan emosional. Aspek sosial dan emosional sangat berkaitan erat dengan keterampilan sosial. Sebagaimana disampaikan oleh Enung, keterampilan sosial adalah kemampuan mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan. Individu yang memiliki kesadaran diri yang kuat siap untuk belajar hidup bersama dengan orang lain. Kemampuan berkomunikasi serta perilaku-perilaku yang dipelajari, digunakan individu dalam interpersonal untuk memperoleh pengukuhan dari lingkungan.[1] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, keterampilan sosial bukanlah suatu hal yang dibawa sejak lahir, namun perilaku yang dipelajari dari kehidupan sehari-hari anak. Baik yang diperoleh dari orang-orang terdekat seperti orangtua, keluarga, teman bermain dan lingkungan sekitar. Pada umumnya anak akan mengamati, meniru dan melakukan apa yang dilakukan orang-orang disekitarnya, sehingga hal tersebut yang kemudian mendorong anak untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Terdapat banyak metode atau cara yang digunakan untuk membantu anak agar mudah berinteraksi dengan lingkungan. Metode atau cara yang digunakan agaknya harus disesuaikan dengan melihat perkembangan anak dan kemampuan anak untuk melakukan kegiatan tersebut, agar didapatkan hasil yang maksimal baik dalam segi akademis maupun psikologis anak. Pemilihan penggunaan metode pembelajaran lebih baik dipilih yang menyenangkan untuk anak. Metode ini akan membuat anak merasa senang dan tidak merasa dipaksa dalam belajar, sehingga apa yang disampaikan kepada anak dapat diserap dengan efektif.

Salah satu metode yang sangat efektif adalah dengan menggunakan permainan. Bermain merupakan sesuatu sarana yang memungkinkan anak berkembang secara optimal. Bermain dapat mempengarui seluruh atau semua aspek perkembangan dengan memberikan kesempatan pada anak untuk belajar tentang dirinya sendiri, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan disekitar anak. Melalui bermain anak juga dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, seperti membina hubungan dengan anak lain, bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat, menyesuaikan diri dengan teman sebaya, dapat memahami tingkah lakunya sendiri, dan paham bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya.

Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, membawa kehidupan pada era digital 4.0 yang mana anak-anak pada era ini dikenal dengan Generasi Z. Hampir semua anak pada usia dini telah memiliki produk digital smartphone. Kurangnya kontrol dan pengawasan dari orang dewasa membuat tidak sedikit dari anak usia dini yang kemudian sangat kecanduan dengan penggunaan smartphone yang pada akhirnya sangat berpengaruh buruk dalam tumbuh kembang anak. Dengan hadirnya smartphone, permainan tradisional lambat laun mulai tertinggal dan dilupakan.

Menurut Ahmad, permainan tradisional atau sering disebut juga permainan rakyat, merupakan permainan yang tumbuh dan berkembang pada masa lalu terutama tumbuh di masyarakat pedesaan. Permainan tradisional tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat.[2] Permainan tradisional sarat akan nilai-nilai budaya yang tinggi sehingga sangat efektif digunakan sebagai metode pembelajaran kepada anak usia dini. Hal ini juga selaras sebagaimana disampaikan oleh Yudiwinata dalam penelitiannya bahwa permainan tradisional memiliki nilai-nilai yang sangat baik dalam perkembangan karakter anak, diantaranya adalah kerjasama, kejujuran, ketangkasan, dan strategi. Aktivitas permainan tradisional pun relatif beragam seperti berlari, melompat, kayang dan berjinjit. Terkadang permainan tradisional dapat dilakukan secara berkelompok, oleh karenanya dapat mengasah keterampilan sosial pada anak salah satunya adalah kerjasama.[3] Oleh sebab itu penelitian ini ditujukan sebagai upaya mengetahui manfaat permainan tradisional dalam meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini.

 

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Studi kepustakaan yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan studi penelaahan melakukan penelusuran dan menelaah bahan pustaka, buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, hasil penelitian, majalah ilmiah, jurnal ilmiah, laporan-laporan yang ada kaitannya dengan manfaat permainan tradisional dalam meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini. Muhammad Nazir juga mengemukakan bahwa studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, litertur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.[4]

 

HASIL

Kegiatan bermain dan anak-anak merupakan dua subjek tidak dapat dipisahkan. Kegiatan bermain pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan yang memiliki karakteristik aktif dan menyenangkan yang memungkinkan anak berkembang secara optimal. Bermain dapat mempengaruhi seluruh atau semua area perkembangan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungnya. Bermain juga dilakukan secara suka rela biasanya muncul dari inisiatif pribadi.

Menurut Hurlock masa usia 3-5 tahun merupakan masa permainan. Bermain sebagai kegiatan yang mempunyai nilai praktis, artinya bermain digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak.[5] Carron & Jas juga memberikan pendapatnya bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang memberikan kebebasan kepada anak untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan menciptakan sesuatu.[6] Dworetzky mengemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain, yaitu:

  • Adanya Motivasi intrinsik, yaitu keinginan untuk bermain dimotivasi dari dalam diri anak, karena itu dilakukan demi kegiatan itu sendiri dan bukan karena adanya tuntutan masyarakat atau fungsi-fungsi tubuh;
  • Dorongan Pengaruh positif, yang berarti kegiatan tersebut menyenangkan atau menggembirakan untuk dilakukan;
  • Bukan dikerjakan sambil lalu, kegiatan bermain bukan dilakukan sambil lalu, karena itu tidak mengikuti pola atau urutan yang sebenarnya, melainkan sifat pura-pura;
  • Cara atau tujuan,cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya. Anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan; dan
  • Bermain itu perilaku yang lentur. Kelenturan ditunjukkan baik dalam bentuk maupun dalam hubungan serta berlaku dalam setiap situasi.[7]

Sebagaimana telah diuraikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain merupakan kegiatan dalam masa anak-anak yang memberikan kebebasan kepada anak untuk berimajinasi, berekplorasi, dan menyalurkan ide. Bermain menjadi hak setiap anak tanpa dibatasi oleh usia. Bermain juga merupakan dunia bagi anak yang memberikan kegembiraan dan anak bisa berkhayal menjadi apa saja yang anak inginkan.

Menurut Suyanto bermain mempunyai manfaat, seperti:

  1. Mengoptimalkan perkembangan fisik dan mental anak;
  2. Memenuhi kebutuhan emosi anak;
  3. Mengembangkan kreatifitas dan kemampuan bahasa anak;
  4. Membantu proses sosialisasi anak. Bermain juga berfungsi untuk mengembangkan aspek perkembangan anak antara lain mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, afektif, bahasa serta aspek sosial.[8]

Permainan tradisional merupakan bentuk permainan turun temurun yang beredar secara lisan di masyarakat. Permainan tradisional memiliki banyak variasi karena tumbuh dan berkembang diantara masyarakat setempat yang dipengaruhi oleh keadaan alam sekitar pada saat itu. Karena sifatnya yang turun temurun permainan tradisional dapat digolongkan sebagai permainan yang sudah sangat tua dan tidak diketahui siapa yang menciptakan permainan tersebut. Menurut Sukirman permainan tradisional banyak mengandung nilai-nilai budaya di dalamnya seperti: melatih sikap mandiri, berani mengammbil keputusan, penuh tanggung jawab, jujur, sikap dikontrol oleh lawan, kerjasama, saling membantu dan saling menjaga, membela kepentingan kelompok, berjiwa demokrasi, patuh terhadap peraturan, penuh perhitungan, ketetapan berpikir dan bertindak, tidak cengeng, berani, sopan, luwes.[9]

manfaat permainan tradisional

Terdapat beragam jenis permainan tradisional yang ada di indonesia, dalam penelitian ini penulis mengambil 3 sampel permainan tradisional, sebagai berikut:

  • Permainan Tradisional Engklek

Engklek adalah permainan tradisional yang sangat terkenal di Indonesia. Sebutannya pun berbeda-beda di setiap daerah. Permainan engklek (dalam bahasa Jawa) adalah permainan lompat-lompatan di bidang datar yang digambar diatas tanah. Permainan ini dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih baik anak laki-laki maupun perempuan. Cara bermainnya cukup sederhana, yaitu dengan melompat menggunakan satu kaki disetiap petak-petak yang telah digambarkan sebelumnya ditanah. Sebelum memulai permainan, setiap pemain harus memiliki kereweng atau gacuk (biasanya dari pecahan genting, keramik atau batu yang datar). Kereweng atau gacuk dilemparkan kesalah satu petak yang telah digambar. Petak yang telah ada kereweng/gacuk tidak boleh diinjak oleh para pemain. Pemain harus melompati petak tersebut dan menagarah pada petak selanjutnya. Kereweng atau gacuk yang dilempar tidak boleh melebihi petak yang dituju, jika melebihi maka kesempatan pemain gugur dan beralih pada pemain selanjutnya begitupun seterusnya, hal ini juga berlaku pada saat pemain melompati setiap petak tidak diperkenankan menginjak garis tepi petak.

Pemain yang berhasil menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu, ia berhak menentukan petak yang akan menjadi hak miliknya dengan cara melempar kereweng/gacuk membelakangi pola engklek. Jika petak telah terpilih, maka pada permainan selanjutnya pemain tersbut dapat menginjaknya dengan menggunakan dua kaki sedangkan pemain lainnya tidak boleh menginjak petak tersebut selama permainan berlangsung.  Pemain yang memiliki petak dengan hak milik terbanyak ialah yang memenangkan permainan tersebut.

  • Permainan Tradisional Ular Naga

Permainan ular naga merupakan permainan yang banyak dimainkan di beberapa daerah di Indonsia, permainan ini juga teramsuk salah satu permainan tradisional yang sangat populer. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok, setiap kelompok dapat diisi oleh laki-laki atau perempuan, jumlah anggota kelompoknya pun sangat bervariasi mulai dari 5 hingga 10 anak atau lebih. Permainan ini memerlukan tempat yang luas, terbuka dan cukup penerangan. Lagu pada ular naga ketika barisan berputar melingkar melewati gerbang, syairnya sebagai berikut:

“Ular naga panjangnya bukan kepalang menjalar-jalar selalu kian kemari umpan yang lezat, itu yang dicari kini dianya yang terbelakang”

Cara bermainnya adalah anak-anak pada setiap kelompok saling berpegangan pada pundak anak didepannya. Anak yang berada di urutan paling depan pada masing-masing kelompok dianggap sebagai pemimpin kelompok tersebut, sedangkan yang dibelakangnya adalah pengikut. Setelah masing-masing kelompok siap maka pemimpin barisan ular naga saling berhadapan, kemudian mereka saling berusaha merebut ekor atau anak yang berada dibarisan ular paling belakang. Ketika ular naga saling meraih ekor lawan, semua anggota barisan harus berpegangan erat pada pundak anak didepannya dan tidak boleh lepas tercerai berai. Ekor lawan yang berhasil ditangkap oleh kepala atau anak yang paling depan akan menjadi anggota ular naga yang menagkapnya. Begitu seterusnya, ular naga yang paling banyak pengikut, dialah pemenangnya.

  • Permainan Tradisional Cublak-Cublak Suweng

Permainan tradisional cublak-cublak suweng adalah sebuah permainan tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Permainan ini biasanya dimainkan oleh 3 orang atau lebih. Cara bermainnya cukup sederhana yaitu diantara jumlah orang yang bermain ada salah satu anggota pemain yang menunduk dengan posisi sujud kebawah lalu anggota lain menengadahkan tangan mereka diatas punggung pemain yang menunduk tadi sambil bernyanyi dan memutarkan benda (batu atau lainnya) dengan syair sebagai berikut:

“Cublak cublak suweng, Suwenge ting gelenter, Mambu ketundung gudhel, Pak empong lerak lerek, Sopo guyu ndelekakhe, Sir sir pong dele kopong, Sir sir pong dele kopong” setelah syair selesai dan benda tersebut berhenti di salah satu pemain maka ia harus menyembunyikannya. Kemudian tugas pemain yang menunduk tadi adalah menebak dimana letak benda tersebut, apabila tebakannya benar maka pemain yang memegang benda tersebut harus bergantian menjadi pemain yang menunduk, namun apabila salah tebak maka ia harus menjadi pemain yang menunduk kembali.

 

PEMBAHASAN

Permainan tradisional memiliki manfaat besar dalam pengembangan keterampilan sosial, Permainan tradisional juga mengandung nilai-nilai positif bagi pembentukan karakter anak, seperti misalnya: nilai sportivitas, kejujuran, keuletan, kesabaran, ketangkasan-keseimbangan-kegesitan (ketrampilan motorik), kreativitas, dan kemampuan menjalin kerjasama dengan orang lain.

Dari 3 sample yang telah penulis ambil dan sebutkan diatas, masing-masing permainan tradisional tersebut memiliki manfaat tersendiri bagi anak-anak, sebagai berikut:

  1. Permainan engklek ini mengajarkan kemampuan anak untuk berkompetisi, sifat tidak mudah menyerah, kejujuran, kesabaran, sportivitas, keuletan, bersosialiasi dengan orang lain dan kebersamaan, pengembangan kemampuan fisik anak menjadi kuat karena pada permainan ini anak diharuskan untuk melakukan gerakan lompatan, mengembangkan kecerdasan logika anak dengan melatihnya berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya, melatih kreatifitas anak, melatih keseimbangan anak, dan melatih keterampilan motorik tangan anak karena dalam permainan ini anak harus melempar kreweng atau gacuk.
  2. Selanjutnya ada permainan ular naga juga mengajarkan anak bagaimana caranya percaya kepada orang lain yang dalam hal ini adalah percaya pada pemimpin kelompok, kerjasama dan saling membantu, sportivitas, kemampuan logika untuk mengira-ngira bagaimana caranya mengambil anggota lawan kelompok, saling menjaga antar anggota kelompok, dan kemampuan untuk tidak mudah menyerah.
  3. Yang terakhir adalah permainan cublak-cublak suweng yang melatih kemampuan logika anak dengan mengira-ngira siapa yang membawa benda yang disembunyikan, melatih sikap kejujuran, kerjasama antar tim dan juga melatih kemampuan anak untuk mengasah kemampuan bernyanyi, serta melatih kemampuan anak sebagai pendengar yang baik.

Melalui permaian tradisional, anak-anak secara langsung maupun tidak langsung terfasilitasi dalam mengelola aspek rasa, karsa, dan karya. Bagaimana olah rasa yang kemudian dapat dibahasakan sebagai kecerdasan emosional maupun dikelola dengan baik, sehingga rasa tidak semata-mata menguasai diri. Kehendak untuk menang dengan segala cara akan dikendalikan oleh indahnya kejujuran, sportivitas, kesabaran, dan keuletan. Pengelolaan rasa, karsa, dan karya sangat diperlukan dalam interaksi anak-anak dengan orang lain.

Sejalan dengan pendapat di atas, Achroni juga mengemukakan manfaat permainan tradisional bagi pengembangan keterampilan sosial anak pada usia dini, antara lain:

  • Mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional anak. Permainan tradisional yang pada umumnya dimainkan secara bersama-sama dapat menjadi media pembelajaran bagi anak-anak untuk bersosialisasi, berinteraksi, bekerja sama, saling mendukung, saling percaya, saling menolong, dan mengembangkan kepercayaan diri anak.
  • Sebagai media pembelajaran nilai-nilai. Permainan anak tradisional menuntut adanya kejujuran, tanggung jawab, semangat berkompetisi secara sehat, kesabaran, kerukunan, sportivitas, pembagian peran secara adil, menghormati alam, dan berbagai nilai moral lainya. Dengan demikian, ketika bermain permainan tradisional dengan sendirinya anak-anak telah belajar berbagai nilai etika dan moral yang sangat diperlukan bagi pembentukan karakter anak.
  • Megoptimalkan kemampuan kognitif anak. Permainan tradisional bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak, seperti melatih konsentrasi dan kemampuan menghitung.
  • Mengasah kepekaan senia anak. Beberapa permainan tradisional dimainkan bersamaan dengan menyanyikan sebuah lagu. Hal ini merupakan salah satu bentuk pengasahan keterampilan seni anak sejak usia dini. [10]

Sebagaimana telah dijelaskan diatas permainan tradisional mempunyai kontribusi dalam meningkatkan ketrampilan sosial anak, karena permainan tradisional memberikan pengalaman secara bersama-sama untuk bersosialisasi, berinteraksi, bekerja sama, saling mendukung, saling percaya, saling menolong, dan mengembangkan kepercayaan diri anak.

manfaat permainan tradisional

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian penulis sebagaimana telah diuraikan diatas, maka penulis membuat kesimpulan bahwa pendidikan untuk anak usia dini sangatlah penting guna mengoptimalkan perkembangan anak, salah satunya perkembangan keterampilan sosial yang harus ditanamkan sejak dini pada anak agar dapat besosialiasi secara baik dengan lingkungan sekitarnya.

Permainan tradisional dapat menjadi sarana untuk mengembangkan dan melatih keterampilan sosial anak, melatih anak untuk bersosialisasi, dapat bekerja sama dengan baik dengan teman, memiliki sikap empati terhadap sesama, melatih siswa untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, dan melatih persaingan sehat, jujur dan seportif didalamnya.

Metode permainan tradisional sangat disarankan untuk menjadi sarana melatih keterampilan sosial pada anak usia dini juga sebagai salah satu saran melesatrikan budaya indonesia melalui permainan tradisional yang telah mulai dilupkan seiring dengan berkembangnya zaman.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dhamarmulya, Sukirman, dkk. 2008. Permainan Tradisional Jawa. Yogyakarta: Kepel Press.

Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan: Perkembangan Peserta Didik. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Hayati, Nur & Ni Nyoman, Seriati. 2015. Permainan Tradisional Jawa Gerak dan Lagu Untuk Menstimulasi Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Seni Tari PGPAUD.

Keen, Achroni,. 2012. Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Melalui Permainan Tradisional. Jakarta : Javalitera.

Moeslichatoen. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nazir, Muhammad. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Prambudi, Handoyo & Yudiwinata, Hikmah Prisia. 2014. Paradigma Permainan Tradisional dalam Budaya dan Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Setiawan, Hery Yuli. 2016. Melatih Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Melalui Permainan Tradisional. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.5 Januari 2016.

Slamet, Suyanto. 2005. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.  Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Yunus, Ahmad. 1981. Permainan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

[1] Enung, Fatimah. 2006. Psikologi Perkembangan: Perkembangan Peserta Didik. Bandung: CV. Pustaka Setia, hal 94.

[2] Ahmad, Yunus. 1981. Permainan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, hal 27.

[3] Yudiwinata, Hikmah Prisia., & Handoyo, Prambudi. 2014. Paradigma Permainan Tradisional dalam Budaya dan Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga, hal 3.

[4] Muhammad, Nazir. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, hal 11.

[5] Ni Nyoman Seriati & Nur Hayati. 2015. Permainan Tradisional Jawa Gerak dan Lagu Untuk Menstimulasi Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Seni Tari PGPAUD, hal 3.

[6]  Hery, Yuli Setiawan. 2016. Melatih Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Melalui Permainan Tradisional. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.5 Januari 2016, hal 4.

[7] Moeslichatoen. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: PT Rineka Cipta, hal 31.

[8] Suyanto, Slamet. 2005. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.  Yogyakarta: Hikayat Publishing, hal 20.

[9] Sukirman Dhamarmulya, dkk. 2008. Permainan Tradisional Jawa. Yogyakarta: Kepel Press, hal 106.

[10] Achroni, Keen. 2012. Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Melalui Permainan Tradisional. Jakarta : Javalitera, hal 46.

 

Demikian penjelasan mengenai “Manfaat Permainan Tradisional dalam Meningkatkan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini”. Materi ini ditampilkan di sehatmental.net dengan persetujuan penulis. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan referensi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.